Pengujian Efek Antikalkuli dari Herba Seledri (Apium graveolens L.) secara In Vitro

750

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 2, No. 2, 63-67 (2015). http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v2i2.7812
Taofik Rusdiana1, Sriwidodo1, Jajan Solahudin1, Eli Halimah1, Aep W. Irwan2, SusenoAmin2, Sri A. Sumiwi1, Marline Abdasah1

Show more

1Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia
2Bagian Produksi Tanaman/Pangan, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Sumedang,Jawa Barat, Indonesia

[collapse]

Download citation | PDF (150 kb)

Abstrak/Abstract

Kata Kunci: Antikalkuli, Apium graveolens L., batu ginjal, seledri

 

Pendahuluan

Urolitiasis merupakan penyakit yang ditandai dengan pembentukan batu dalam saluran kemih. Jika ditinjau dari lokasinya, urolitiasi terdiri dari urolitiasis bagian atas dikenal sebagai batu ginjal (nefrolitiasis) dan juga urolitiasis bagian bawah biasa dikenal dengan sebutan batu kandung kemih (vesikolitiasis).1

Nefrolitiasis adalah jenis urolitiasis yang paling banyak ditemukan kasusnya di Jawa Barat.2 Etiologi penyakit batu ginjal belum terungkap secara jelas, namun ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi terbentuknya batu ginjal (faktor intrinsik) antara lain, umur, jenis kelamin, gen, ras, predisposisi anatomi-fisiologi, serta faktor ekstrinsik seperti iklim, intake cairan, diet, dan pekerjaan.3

Upaya medis yang dilakukan untuk menangani penyakit yaitu, tindakan bedah, aplikasi teknologi gelombang (ESWL), penembakan laser, dan lain-lain.4

Dalam rangka berpartisipasi baik dalam mengatasi meringankan penyakit tersebut ataupun mengembangkan tanaman asli Indonesia yang berpotensi sebagai obat bahan alam, dilakukan upaya menggali potensi tanaman seledri (Apium graveolens L.) sebagai antikalkuli. Tanaman seledri mengandung senyawa-senyawa flavonoid, alkaloid, glikosida, terpenoid, tannin, dan polifenol.5 Diduga kandungan flavonoid di dalam seledri seperti apigenin dan apiin, membantu meluruhkan dan mencegah penempelan kristal garam kalsium ataupun magnesium yang dapat menyebabkan terbentuknya batu ginjal.68

Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian pengujian efek atau aktivitas farmakologi secara in vitro sebagai tahap awal untuk pembuktian secara ilmiah apakah herba seledri dapat meluruhkan batu ginjal atau tidak. Metode penelitian yang dikembangkan berasal dari konsep dasar teori kelarutan sebagai sifat fisik utama dalam fase biofarmasetik suatu obat/bahan obat dalam interaksinya dengan kondisi fisologis tubuh. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar sebagai pengembangan obat herbal terstandar atau produk fitofarmaka peluruh batu ginjal dari tanaman ini.

Tabel 1 Komponen Batu Ginjal Uji

Tabel 2 Hasil Penapisan Fitokimia Herba Seledri

Metode

Tanaman seledri (Apium graveolens L.) diperoleh dari kawasan pertanian Ciwidey Bandung Selatan dan telah diidentifikasi di Herbarium Jurusan Biologi, FMIPA, Universitas Padjadjaran, pelarut untuk pembuatan infus, maserasi, ekstraksi, dan fraksinasi antara lain n-heksan, metanol, akuades, etil asetat dan batu ginjal (SMF-Bedah Urologi RSHS), HNO3 pekat.

Analisis komponen dari batu ginjal dilakukan terlebih dahulu batu ginjal yang diperoleh diidentifikasi untuk mengetahui unsur-unsur atau komponen batu ginjal. Unsur batu ginjal yang diperiksa adalah kalsium, oksalat, ammonium, fosfat, asam urat, magnesium, dan sistin. Pemeriksaan dilakukan di laboratorium kimia klinik Prodia Bandung.

Pembuatan simplisia seledri dilakukan dengan dikeringkan pada suhu kamar dan terlindung dari sinar matahari.

Pembuatan infusa dilakukan dengan cara yaitu, simplisia dimasukkan ke dalam panci infus dengan air secukupnya (500 mL) kemudian dipanaskan diatas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu 90 oC sambil sesekali diaduk. Setelah selesai, serkai selagi panas melalui kain flannel, ampas dibilas dengan menggunakan air panas dengan volume secukupnya hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki (Konsentrasi 30 g basah/300 mL air). Dilakukan pemeriksaan pH terhadap ketiga kelompok infus tersebut.

Maserasi dan fraksinasi dilakukan dengan serbuk simplisia seledri sebanyak 300 g dibungkus dengan kertas saring lalu dimasukkan dalam alat soxhlet. Soxhletasi dilakukan selama 48 jam dengan n-heksan untuk menghilangkan jaringan lemak dari jaringan tanaman. Bahan yang telah bebas lemak di maserasi dengan 3×1,5 L metanol pada suhu kamar. Kemudian ekstrak metanol diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental, dilakukan fraksinasi menggunakan etil asetat-air (3:1) menggunakan corong pisah. Fraksi etil asetat dan air diuapkan menggunakan vaccum evaporator pada suhu 40 oC sehingga diperoleh ekstrak kering. Selanjutnya dibuat sediaan larutan fraksi air pada konsentrasi 0,1% (SF-1); 0,25% (SF-2); dan 5% (SF-3) (0,5 g ekstrak kering/100 mL akuades).

Penapisan fitokimia dilakukan untuk mengetahui kandungan metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, tannin, polifenol, triterpenoid, steroid, saponin dan kuinon. Penapisan fitokimia ini dilakukan sesuai dengan prosedur pengujian yang baku di laboratorium farmakognosi.

Pengujian antikalkuli in vitro dilakukan dengan cara merendam 100 mg serbuk homogen batu ginjal di dalam tabung berisis 10 mL infus atau fraksi ekstrak seledri pada semua variasi konsentrasi dan dibiarkan terlarut sampai jenuh selama 24 jam pada kondisi suhu 37±0,5 oC, sambil dilakukan pengocokan setiap 30 menit. Setelah 24 jam, cairan di dalam tabung disentrifugasi pada kecepatan 6000 rpm selama 10 menit. Sejumlah volume tertentu filtrat dipindahkan ke tabung lain yang bersih untuk selanjutnya ditetapkan kadar Ca atau Mg-nya menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrophotometer)

Hasil

Hasil pemeriksaan komponen dari batu ginjal yang digunakan pada pengujian in vitro daya larut infus dan fraksi air seledri ditunjukkan pada Tabel 1. Hasil penapisan fitokimia terhadap simplisia seledri dapat dilihat pada Tabel 2. Hasil pengujian in vitro antikalkuli dari infus seledri tersebut terhadap batu ginjal ditunjukkan oleh Tabel 3. Hasil pengujian daya larut fraksi air ekstrak seledri terhadap batu ginjal ditunjukkan dalam Tabel 4.

Tabel 3 Kadar Ca dan Mg yang Terlarut dalam 10 mL Infus Seledri (30 g Segar/300 mL air)

Tabel 4 Kadar Ca dan Mg yang Terlarut dalam Fraksi Air Ekstrak Seledri

 

Pembahasan

Dari Tabel 1 dapat diketahui bahwa batu ginjal uji mengandung kalsium dan magnesium, sesuai dengan kondisi yang diharapkan untuk menjadi batu uji pada tahap pengujian in vitro antikalkuli.

Pengujian    daya   larut    infus   seledri dilakukan dengan maksud untuk mengetahui potensi awal herba seledri sebagai antikalkuli dengan merendam 100 mg serbuk batu ginjal dalam 10 mL infus seledri dengan konsentrasi 30 g segar bahan seledri dalam 300 mL air infus.

Hasil uji statistik t-student terhadap data Tabel 3 menunjukkan bahwa kadar Ca antara infus dan kontrol berbeda secara bermakna (p>0,01), demikian pula dalam hal kadar Mg yang terlarut berbeda secara bermakna (p>0,01) antara infus dan kontrol (air). Hal ini menunjukkan bahwa infus seledri dapat berpotensi menjadi pelarut komponen dari batu ginjal yakni kalsium dan magnesium.

Pengujian daya larut fraksi ekstrak seledri dimaksudkan untuk mengetahui potensi herba seledri lebih detail yaitu dengan menguji tingkat kelarutan batu ginjal dalam fraksi air dari ekstrak metanol seledri dalam berbagai konsentrasi.

Hasil uji statistik (Tabel 4) dengan metode t-student pada taraf signifikansi (α= 0,01) menunjukkan bahwa kadar kalsium yang terlarut dalam fraksi air seledri berbeda secara signifikan antara SF-3 dengan kontrol, sedangkan SF-1 dan SF-2 tidak berbeda secara signifikan. Kadar Mg yang terlarut, hanya kelompok SF-3 yang memberikan perbedaan yang signifikan dibandingkan dengan kontrol.

Dari hasil uji statistik dapat dinyatakan bahwa fraksi air seledri konsentasi 0,5% memiliki aktivitas yang cukup sebagai pelarut atau peluruh komponen batu ginjal baik kalsium ataupun magnesium. Fraksi air seledri dengan konsentrasi 0,1% dan 0,25% tidak menunjukkan potensinya sebagai peluruh batu ginjal (antikalkuli).

Simpulan

Dari hasil pengujian antikalkuli secara in vitro dapat disimpulkan bahwa herba seledri baik dalam sediaan infus (30 g segar/300mL) maupun sediaan cair dari ekstrak kering fraksi air (0,5%) memiliki potensi sebagai antikalkuli (peluruh batu ginjal). Untuk pembuktian lebih lanjutsebaiknya dilakukan uji antikalkuli secara in vitro pada kondisi pH yang berbeda dan pengujian antikalkuli secara in vivo.

Ucapan Terima Kasih

Terima kasih kepada teknisi dan laboran di laboratorium PPSDAL Jurusan Biologi, Universitas Padjadjaran, yang telah membantu dalam teknis penelitian ini dan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah mendanai penelitian ini melalui proyek MP3EI.

Daftar Pustaka

  1. Nahdi TF. Nefrolithiasis dan hidronefrosis sinistra dengan infeksi saluran kemih atas. Medula. 2013;1(4):45-53.
  2. Heru H, Mia K, Budiman. Hubungan karakteristik pasien dengan kejadian nefrolitiasis di Rumah Sakit Umum Daerah Majalengka Tahun 2013. Prosiding Pendidikan Dokter; 2014-2015; Bandung, Indonesia: Universitas Islam Bandung; 2014.
  3. Nur L. Faktor-faktor risiko kejadian batu saluran kemih pada laki-laki (studi kasus di RS Dr. Kariadi, RS Roemani dan RSI Sultan Agung Semarang) (thesis). Semarang: Universitas Diponegoro; 2008.
  4. Chaussy MD, Eisenberger MD, Forssmann. Extracorporeal shockwave lithotripsy (eswl): a Journal of Endourology. 2007;21(11): 1249-1253
  5. Shanmugapriya R, Ushadevi T. In vitro antibacterial and antioxidant activities of Apium graveolens seed  extracts. Int. J. Drug Dev. & Res. 2014;6(3): 165-170.
  6. Kolarovic J, Popovic M, Zlinská J, Trivic S, Vojnovic M. Antioxidant activities of celery and parsley juices in rats treated with Molecules. 2010;15:6193-6204.
  7. Wientarsih I, Madyastuti R, Prasetyo, BF, Aldobrata A. Antilithiasis activity of avocado  (Persea  americana   Mill) leaves extract in white male rats (Short Communication). Hayati Journal of Biosciences. 2012;19(1):49-52.
  8. Ratu G, Badji A, Hardjoeno. Profil analisis batu saluran kemih di laboratorium patologi klinik. Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory. 2006;12(3):114-117.