Formulasi dan Evaluasi Tablet Alprazolam 1 mg

1277

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 1, No. 1, 14-19 (2014). http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v1i1.7467
Yuti Mutiawati2, Taofik Rusdiana1, Fitrileni2, Anis Khoirunisa1

Show more

1Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia
2Unit Riset dan Pengembangan PT. Kimia Farma, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Korespondensi: ymutiawati@yahoo.com (Yuti Mutiawati)

[collapse]

Download citation | PDF (217 kb)

Abstrak/Abstract

Kata kunci:  Alprazolam, uji bioekivalensi, uji disolusi terbanding

Pendahuluan

Tablet merupakan bentuk sediaan yang paling banyak digunakan karena memiliki beberapa keuntungan, yaitu mudah dalam penggunaannya meskipun pasien orang tua dan anak-anak mengalami kesulitan dalam menelannya, bentuknya yang kompak dan mudah dalam proses produksinya.1

Kualitas sediaan farmasi tergantung pada beberapa faktor, meliputi kualitas dari bahan aktif dan juga bahan pembantu yang digunakan serta berkaitan dengan formula sediaan, teknologi proses produksi, kontrol kualitas, dan pengemasan sebagai jaminan efikasi, keamanan dan khasiat bagi suatu produk.2,3

Pemilihan bahan pembantu yang tepat dalam merancang formula dari tablet alprazolam 1 mg sangat diperlukan dengan menilai faktor manfaat dan ekonomis dari beberapa bahan pembantu yang digunakan, pada penelitian sebelumnya digunakan perbandingan bahan penghancur tablet alprazolam, seperti cross carmelose, cross povidon, dan natrium starch glycolat, dan hasilnya memenuhi syarat untuk ketiga zat penghancur,4 pada penelitian ini sebagai zat penghancur dipilih sodium starch glycolat5, dan tiga variasi konsentrasi kollidon K 30.

Alprazolam mudah diabsorpsi di dalam saluran pencernaan. Konsentrasi plasma maksimum akan tercapai dalam waktu antara satu sampai dengan dua jam. Plasma

Tabel 1 Formula Tablet Alprazolam 1 mg

tabel1

level adalah tingkat proporsional dengan dosis yang diberikan, dosis antara 0,3 mg sampai 3,0 mg, kadar puncak yang teramati antara 8,0 ng/mL hingga 37 ng/mL. Waktu paruh dari alprazolam adalah 11,2 jam (sekitar 6,3 jam hingga 26,9 jam) pada orang dewasa yang sehat. Alprazolam akan terikat pada protein serum sebanyak 80%, terutama pada serum albumin secara in vitro.6

Metode

Bahan yang digunakan pada penelitian ini meliputi alprazolam (Centaur Chemical Private Limited, India), laktosa (Meggle, Germany), talkum (Osmanthus), eritrosin CI 45430 (Sensient Food Colors), aerosil (Cabot, USA), alkohol 95% (PT. Sumber Kita Indah), magnesium stearat (Faci Caraso, Italy), amilum maydis (Cerestar), sodium starch glycolate (Avebe, Holand), natrium lauril sulfat (Cognis), FDC Blue No. 1 (Sensient Food Colors), dan polivinil pirolidon K 30 (ISP Tch Inc).

Metode granulasi yang digunakan di dalam pembuatan tablet pada penelitian ini adalah metode granulasi basah. Metode tersebut dilakukan terhadap ketiga formula. Formula tablet alprazolam (F1, F2, dan F3) dapat dilihat pada Tabel 1. Formula yang terpilih selanjutnya dilakukan produksi skala pilot, evaluasi massa cetak, evaluasi sediaan tablet, uji disolusi terbanding, pengujian bioekivalensi.7

Tabel 2 Distribusi Ukuran Partikel (Kumulatif)

tabel2

Tabel  3  Distribusi  Ukuran  Partikel  (Ukuran Berat)

Hasil

Ketiga formula tersebut dievaluasi massa cetak dan bentuk sediaan tablet. Pemeriksaan granul massa cetak meliputi, distribusi ukuran partikel, kadar air granul, dan sudut istirahat.

Hasil pengukuran distribusi ukuran partikel disajikan pada Tabel 2 dan 3. Rata-rata ukuran partikel dari ketiga formula adalah 312,6265 316,3099 μ.

Hasil ketiga formula untuk kadar air yang diperiksa dari beberapa titik (atas, tengah, dan bawah) adalah pada rentang 2– 4%.

Parameter yang berpengaruh terhadap kompresibilitas adalah bulk density, tapped density, compressibility, dan hausner ratio.

Bentuk sediaan merupakan tablet flat beveled edge, berwarna ungu, dengan diameter 6,4–6,6 mm, dari ketiga formula diperoleh hasil yang paling cepat hancur adalah F1. Berdasarkan hal tersebut, pada formula F1 dilakukan pemeriksaan lengkap  (Tabel 4).

Tabel 4 Spesifikasi Tablet Alprazolam 1 mg

Tabel 5 Hasil Uji Disolusi Terbanding Tablet Alprazolam terhadap Tablet Innovator

Tabel 6 Farmakokinetika Tablet Alprazolam

Tabel 7 Farmakokinetika Tablet Alprazolam–Tablet Innovator

Gambar 1 Profil Rata-rata Konsentrasi Plasma

Pembahasan

Salah satu evaluasi dari granul adalah kompresibilitas. Kompresibilitas yang baik dapat ditunjang oleh kadar air yang memenuhi persyaratan dari setiap formula, kandungan air akan berpengaruh terhadap aktivitas pengikat dalam formula, di mana nilai optimum kadar air akan memberikan kompresibilitas yang baik, bila terlalu kering, akan memberikan kerapuhan, caping, dan laminating dari tablet, dan bila granul masih lembab, dapat memberikan aliran yang buruk dan akan terjadi penempelan massa pada punch dan dies. 8

Evaluasi selanjutnya adalah nilai sudut istirahat yang berkaitan dengan sifat alir granul, yang akan berpengaruh terhadap kualitas tablet, nilai yang baik untuk sudut istirahat adalah 25o 40o.9 Hasil yang diperoleh sudah baik, yaitu 25o.

Tablet  alprazolam 1 mg dan tablet innovator dibandingkan. Pengujian disolusi terbanding dilakukan dengan metode basket pada 100 rpm atau metode paddle pada 50 rpm dalam media pH 1,2 (larutan HCl), larutan pH 4,5 (dapar sitrat) dan pH 6,8 (dapar fosfat), waktu pengambilan sampel untuk produk obat lepas cepat yaitu 10, 15, 30, 45, dan 60 menit. Produk obat yang digunakan minimal 12 unit dosis, profil disolusi dibandingkan dengan menggunakan faktor kemiripan f2, yang dihitung dengan persamaan berikut:

persamaan

Di mana Rt adalah presentasi kumulatif obat yang larut pada setiap waktu sampling dari produk pembanding (R = reference), dan Tt adalah presentasi kumulatif obat yang larut pada setiap waktu sampling dari produk uji (T=test).

Nilai faktor kemiripan atau f2 (50 100) menunjukkan kesamaan atau ekivalensi kedua kurva, yang berarti kemiripan profil disolusi dari kedua produk tersebut.

Karena produk “copy” dan juga produk pembanding memiliki disolusi yang sangat cepat (>85% melarut dalam waktu kurang dari 15 menit dalam ketiga medium dengan metode uji disolusi yang dianjurkan), oleh karena itu perbandingan profil disolusi tidak diperlukan.10

Ketersediaan hayati adalah persentasi dan kecepatan zat aktif dari suatu produk obat yang mencapai atau tersedia dalam sirkulasi sistemik dalam bentuk utuh atau aktif setelah pemberian produk obat tersebut, diukur dari kadarnya dalam darah terhadap waktu atau dari eksresinya dalam urine.10

Parameter farmakokinetika yang dinilai dalam studi adalah luas area di bawah kurva kadar terhadap waktu selama 72 jam (AUC0-t), luas area di bawah kurva kadar terhadap waktu sampai waktu tak terhingga (AUC0-inf), kadar puncak (Cmax) dan waktu untuk mencapai kadar puncak (tmax) menggunakan rancangan menyilang, acak, tersamar tunggal, yang mengikutsertakan 13 subjek dewasa sehat, berumur antara 18–55 tahun, dan diberikan penjelasan mengenai metode penelitian.

Penelitian ini disetujui oleh Komisi Etik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Badan Pengawas Obat dan Makanan RI. Subjek dipuasakan semalam dan keesokan harinya diberi 1 (satu) tablet alprazolam 1 mg (test) dan 1 (satu) tablet alprazolam 1 mg innovator, sampel darah diambil pada jam, 0, 15, 30, 45 menit, 1; 1,5;2;2,5;3;4;6;8;12;14;36;48dan72 jam setelah pemberian obat, setelah periode wash out selama 1 minggu, prosedur diulang dengan menggunakan obat lainnya. Kadar obat diukur menggunakan UPLC-MSMS tertera pada Tabel 6 dan Tabel 7.

Simpulan

Berdasarkan hasil pengujian sediaan tablet alprazolam 1 mg, secara fisika dan kimia adalah memenuhi persyaratan. Uji disolusi terbanding yang dilakukan terhadap tablet alprazolam uji dan innovator adalah memenuhi persyaratan. F2 (50–100) menunjukkan kemiripan antara kedua sediaan tablet tersebut, begitu pula dengan uji ketersediaan hayati komparatif terhadap innovator adalah bioekivalen.

Ucapan Terima Kasih

Ucapan terima kasih kepada PT. Kimia Farma Tbk. yang telah membantu penelitian ini.

Daftar Pustaka

  1. Thakur. Design and in vitro evaluation of fast disintegrating tablets of alprazolam. International Journal of Pharmaceutical & Research Sciences (IJPRS). 2013;2.
  2. Bumpas J, Betsch E. Exploratory study on active pharmaceutical ingredient manufacturing for essential medicines. Washington DC: The World Bank; 2009.
  1. Ambore SM, Gangale AA, Gavit MM, Patil SG. Development of pharmaceutical excipient from Vigna mungo husk powder. The Pharma Innovation. 2013;2(10):26–36.
  2. Thakur RR, Narwal S. Formulation and Evaluation of orally disintegrating tablet of niacinamide. Research Journal of Pharmaceutical, Biological and Chemical Sciences. 2012;3(3):292– 302.
  3. Shakar AAM, Razzak MSMI, Hossain MM, Arif MH, Reza MS. Effect of superdisintegrants on some physical attributes and release profile of paracetamol immediate release tablets. Bangladesh Pharmaceutical Journal. 2012;15(1):89–94.
  4. Damle B, Tarabar S, Kuruganti U, Crownover P, Labadie RR. Bioequivalence of alprazolam sublingual tablet formulation and alprazolam immediate release tablet in healthy volunteers. J Bioequiv Availab. 2013;5(4):149–153.
  5. PT. Kimia Farma. Bioequivalence study report. Pharma Metric Labs. PT. Kimia Farma; Jakarta, Indonesia; 2012 September.
  6. Crouter A, Briens L. The Effect of moisture on the flowability of pharmaceutical excipients.
  7. Yusuf H, Radjaram A, Setyawan D. Modifikasi pati singkong pregelatin sebagai bahan pembawa cetak langsung. J. Penelit. Med. Eksakta. 2008;7(1):31–47.
  8. BPOM RI. Pedoman uji bioekivalensi. Jakarta: BPOM RI; 2005.