Kamis, Juli 19, 2018

Vol. 4, No. 3 (2017)

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 4, No. 3, 79-117 (2017).
http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v4i3

Halaman Sampul


Pengelolaan Informasi Kesehatan Secara Terintegrasi untuk Memaksimalkan Layanan Kesehatan kepada Pasien di Rumah Sakit

Nuzlil Laily Nur Azizah1 , M. Very Setiawan2
Abstrak

Banyaknya masyarakat yang memperoleh perawatan pada beberapa instansi layanan kesehatan menjadikan adanya alasan mengenai pentingnya kegiatan pengelolaan informasi kesehatan pasien yang terintegrasi. Hal ini berfungsi untuk menyediakan informasi kesehatan secara komprehensif kepada pasien dan staf medis dalam membantu pelayanan kesehatan yang lebih baik. Artikel ini mengkaji elemen-elemen yang diperlukan dan model dalam kegiatan Health Information Management yang terintegrasi. Kajian artikel ini dilakukan secara deskriptif dengan mengkaji 23 literatur yang terbit dari tahun 2007-2017, yang diperoleh dari jurnal-jurnal yang dilanggan perpustakaan UGM, Google Scholar dan PubMed Health, mengenai pengelolaan informasi kesehatan pasien. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa elemen yang diperlukan dalam penerapan Health Information Management yang terintegrasi dapat dibagi ke dalam lima elemen, yaitu: 1. Sumber Daya Manusia, 2. Kebijakan dan kelembagaan, 3. Penerapan sistem, 4. Data dan pengelolaannya, 5. Akses dan integrasi data. Pada model pengelolaan informasi kesehatan pasien yang terintegrasi, harus menyediakan akses terhadap informasi kesehatan pasien dan memungkinkan pertukaran data yang dikelola beberapa petugas medis, pengelola data pasien dan rumah sakit lain. Hal ini didukung oleh sebuah sistem informasi kesehatan yang dilengkapi dengan sistem keamanan data dan adanya dukungan dari kepala rumah sakit.

[collapse]

| Full HTML | PDF | 79-91 |


Optimasi Konsentrasi Etil Selulosa dan Lama Pengadukan dalam Preparasi Microspheres Metformin Hidroklorida

Ninda Sukmaningrum, Lusia Oktora Ruma Kumala Sari dan Eka Deddy Irawan
Abstrak

Metformin hidroklorida (MH) merupakan obat pilihan pertama yang digunakan dalam terapi diabetes mellitus tipe 2, namun dapat menimbulkan efek samping pada saluran pencernaan sehingga MH tepat dipreparasi menjadi sediaan microspheres. Banyak faktor yang mempengaruhi hasil preparasi microspheres di antaranya adalah konsentrasi etil selulosa (EC) dan lama pengadukan yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komposisi terbaik konsentrasi EC dan lama pengadukan yang dapat menghasilkan microspheres MH-EC dengan entrapment efficiency (EE) tertinggi menggunakan optimasi desain faktorial. MH digunakan sebagai bahan aktif, EC digunakan sebagai polimer serta non-aqueous solvent evaporation method sebagai teknik yang dipilih dalam preparasi microspheres. Hasilnya microspheres yang menggunakan konsentrasi EC sebanyak 4.500 mg dan lama pengadukan selama 2 jam menghasilkan EE sebesar 84,6 ± 0,557% dengan nilai verifikasi EE sebesar 98,1%, drug loading sebesar 12,7 ± 0,173% dan yield sebesar 95,1 ± 0,612%. Microspheres memiliki bentuk sferis dan morfologi permukaan yang relatif halus dan cerah serta ukuran partikel sebesar 173,8 ± 4,41μm. Hasil analisis FTIR menunjukkan bahwa tidak ada perubahan gugus fungsi spesifik pada MH sebagai bahan aktif.

[collapse]

| Full HTML | PDF | 92-99 |


PENGEMBANGAN FORMULA NANO-FITOSOM SERBUK LIOFILISASI SEDUHAN TEH HITAM (Camellia sinensis L. Kuntze)

Patihul Husni1, Kartika Puspitaningrum2

Abstrak

Nano-fitosom merupakan suatu teknologi nano yang digunakan untuk meningkatkan bioavailabilitas bahan aktif yang terkandung dalam tanaman dengan cara mengikat bahan aktif dengan fosfolipid yang memiliki sifat mirip dengan membran sel. Nano-fitosom dibuat dengan mencampurkan fitokonstituen dan fosfatidilkolin dalam perbandingan molar tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula nano-fitosom serbuk liofilisasi seduhan teh hitam (Camellia sinensis L. Kuntze). Nano-fitosom diformulasikan dengan membuat tiga variasi perbandingan katekin:fosfatidilkolin:kolesterol mulai dari 1:1:0,2 (F1), 1:2:0,2 (F2), dan 1:3:0,2 (F3) dengan menggunakan metode refluks. Evaluasi nano-fitosom meliputi ukuran partikel, indeks polidispersitas, dan efisiensi penjerapan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa ukuran partikel nano-fitosom sekitar 52,1-101,9 nm dengan nilai indeks polidispersitas 0,309-0,404. Efisiensi penjerapan berkisar antara 6,7266%-11,4317%. Formula nano-fitosom dengan efisiensi penjerapan yang paling baik yaitu F3 dengan perbandingan molar katekin:fosfatidilkolin:kolesterol 1:3:0,2 dengan ukuran partikel sebesar 52,1±12,5 nm, indeks polidispersitas 0,320 dan efisiensi penjerapan 11,4317±0,3153%. Analisis data menggunakan One-Way Anova menunjukkan bahwa terdapat pengaruh konsentrasi fosfatidilkolin terhadap efisiensi penjerapan secara signifikan (p < 0,05).

[collapse]

| Full HTML | PDF | 100-111 |


PENENTUAN PARAMETER TERMODINAMIKA PEMBENTUKAN KOMPLEKS INKLUSI GLIMEPIRID-BETASIKLODEKSTRIN

Fitrianti Darusman, Endah Rahayu
Abstrak

Glimepirid merupakan obat antidiabetika oral golongan sulfonilurea generasi ketiga yang termasuk dalam Biopharmaceutical Classification System (BCS) kelas II dengan sifat kelarutan praktis tidak larut dalam air sehingga dapat ditingkatkan kelarutannya dengan pembentukan kompleks inklusi menggunakan senyawa turunan siklodekstrin yaitu betasiklodekstrin yang memiliki rongga toroidal dengan bagian dalam bersifat hidrofobik dan bagian luar bersifat hidrofilik. Penelitian ini dilakukan untuk menentukan harga tetapan stabilitas kompleks berdasarkan parameter termodinamika (ΔH, ΔG, dan ΔS) pada proses pembentukan kompleks inklusi glimepirid-betasiklodekstrin. Penelitian dilakukan dalam dapar asetat pH 6,2 dan dapar fosfat pH 7,4 pada suhu 32°, 37° dan 42°C. Hasil penelitian menunjukkan bahwa glimepirid dapat berinteraksi membentuk kompleks inklusi dengan betasiklodekstrin. Interaksi antara glimepirid dengan betasiklodekstrin pada pH 6,2 berlangsung secara eksotermik (ΔH<0), proses terjadi secara spontan (ΔG<0) dan terjadi peningkatan ketidakteraturan sistem (∆S positif). Pada pH 7,4 interaksi berlangsung secara eksotermik, proses terjadi secara spontan (ΔG<0) dan terjadi penurunan ketidakteraturan sistem (∆S negatif).

[collapse]

| Full HTML | PDF |112-117 |


PENINGKATAN KELARUTAN DAN DISOLUSI IBUPROFEN MELALUI PEMBENTUKAN MIKROPARTIKEL METODE EMULSIFICATION-IONIC-GELATION MENGGUNAKAN POLIVINIL ALKOHOL (PVA) SEBAGAI POLIMER DAN TRIPOLIFOSFAT (TPP) SEBAGAI AGEN CROSSLINK

Rival Ferdiansyah, Yola Desnera Putri, Syarif Hamdani, Angga Julianto

Abstrak

Ibuprofen dikenal sebagai obat antiinflamasi nonsteroid yang digunakan untuk analgetik dan antipiretik dan termasuk obat dengan kelarutan rendah, tetapi memiliki permeabilitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan ibuprofen dengan kelarutan dan disolusi yang lebih tinggi dengan membentuk mikropartikel menggunakan metode emulsification-ionic gelation. Partikel ibuprofen dikarakterisasi menggunakan Scanning Elektron Microscopy dan Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR). Kemudian dilakukan uji kelarutan dan uji disolusi ibuprofen. Pengujian karakteristik menggunakan SE, mikropartikel pH 2, pH4, pH 6 mengalami penurunan ukuran partikel berturut-turut sebesar 97,48%, 84%, dan 72% dari ukuran ibuprofen. Kelarutan ibuprofen setelah proses emulsification-ionic-gelation dalam air pada pH 6 meningkat delapan kali, sedangkan disolusi ibuprofen tertinggi ditunjukkan oleh partikel ibuprofen pada formula 3 yang dapat mendisolusi ibuprofen lebih dari 44% dalam 30 menit pada media dapar HCl 0,1N dibandingkan dengan formula yang lain. Kesimpulan yang diperoleh adalah partikel ibuprofen setelah proses emulsification-ionic-gelation dapat memperkecil ukuran partikel dan meningkatkan kelarutan tetapi tidak dengan disolusinya.

[collapse]

| Full HTML | PDF | 118-133 |