Minggu, Mei 20, 2018

Vol. 3, No. 1 (2016)

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 3, No. 1, 1-37 (2016).
http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v3i1


Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Antibakteri Kompleks Schiff Base dengan Tembaga (Cu)
Lasmaryna Sirumapea, Desi Anggraini
Abstrak

Senyawa Schiff base adalah senyawa dengan gugus fungsional azometin (-CH=N-), yang terbentuk dari kondensasi amin primer dengan senyawa karbonil. Beberapa senyawa Schiff base yang berhasil disintesis terbukti bersifat sebagai antimikroba. Telah disintesis senyawa Schiff base dari 4,4 diamino difenil eter, ortohidroksi benzaldehid serta kompleksnya dengan ion logam Cu (II). Senyawa Schiff base yang terbentuk dan kompleks dikarakterisasi gugus fungsinya dengan spektrometer FT-IR. Senyawa yang terbentuk kemudian diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Escherichia coli menggunakan metode difusi agar. Spektrum senyawa Schiff base mempunyai puncak pada bilangan gelombang 1620,21 cm-1 dan spektrum senyawa kompleks mempunyai puncak pada bilangan gelombang 1612,49 cm-1. Puncak pada senyawa Schiff base mengindikasikan adanya ikatan CH=N, pergeseran puncak pada kompleks Schiff base menunjukkan adanya ikatan antara nitrogen dengan ion logam. Hasil pengujian senyawa Schiff base dan kompleks terhadap bakteri Escherichia coli menunjukkan snyawa ini positif sebagai antibakteri Escherichia coli. Aktivitas sebagai antibakteri, baik Schiff base maupun kompleksnya lebih kecil dibandingkan aktivitas yang diberikan oleh kontrol, yaitu kloramfenikol.

[collapse]

| Full HTML | PDF | 1-8 |


Formulasi, Evaluasi, dan Perbandingan Intensitas Kepedasan Granul Effervescent Jahe
Novriyanti Lubis, Riska Prasetiawati, Gilang Rahmat
Abstrak

Telah dilakukan penelitian tentang formulasi, evaluasi, dan perbandingan intensitas kepedasan granul effervescent jahe putih (Zingiber officinale Roscoe) instan dan jahe merah (Zingiber officinale Var.Rubrum) instan yang menggunakan satu formulasi hasil dari estimasi. Metode yang digunakan ekstraksi panas yang digunakan untuk memperoleh ekstrak jahe instan dengan pengisi glukosa sebanyak 50% dari jumlah volum. Data pengamatan menunjukkan bahwa distribusi ukuran, bobot jenis benar, bobot jenis nyata, bobot jenis mampat, porositas, kompresibilitas, kadar air, kecepatan alir, dan sudut istirahat dari formula tetap stabil setelah penyimpanan selama 12 hari pada suhu ruangan. Hasil uji kepedasan dan kesukaan menyatakan bahwa granul effervescent jahe putih instan lebih pedas namun tidak memiliki aroma, warna yang kurang menarik, dibandingkan dengan granul effervescent jahe merah instan menurut para panelis relawan penguji.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 9-16 |


Formulasi Krim Antihiperpigmentasi Ekstrak Kulit Buah Delima (Punica granatum L.)
Bhakti A Magdalena, Sriwidodo Bardi, Wiwiek Indriyanti, Firdha S Maelaningsih
Abstrak

Kulit buah delima (Punica granatum L.) diketahui memiliki kandungan asam elegat dan asam galat yang menghambat enzim tirosinase, serta punicalagin yang menghambat reaksi oksidasi L-tirosin dan L-DOPA dalam mekanisme pembentukan melanin sebagai penyebab dari hiperpigmentasi. Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi sediaan krim antihiperpigmentasi yang mengandung ekstrak kulit buah delima. Metode penelitian meliputi ekstraksi kulit buah delima, formulasi sediaan krim antihiperpigmentasi, evaluasi fisik sediaan, pengujian aktivitas penghambatan tirosinase, pengujian cemaran mikroba, dan ujian iritasi sediaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah delima dapat diformulasikan menjadi krim antihiperpigmentasi yang baik, efektif, dan aman. Namun, krim yang mengandung ekstrak kulit buah delima 1% menunjukkan ketidakstabilan fisik. Sediaan krim dengan berbagai konsentrasi ekstrak kulit buah delima (0,5% dan 1%) efektif menghambat enzim tirosinase dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 363 ppm dan 290 ppm.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 18-25 |


Analisis Kalium dan Kalsium pada Ikan Kembung dan Ikan Gabus
Nia N Susanti, Yulia Sukmawardani, Ida Musfiroh
Abstrak

Kalium dan kalsium merupakan makromineral, yang memiliki peran dan fungsi penting bagi tubuh, baik pada sel, jaringan, organ, dan keseluruhan tubuh. Kalium berfungsi untuk mengaktifkan enzim, serta membantu dalam menjaga tekanan osmotik dan keseimbangan antara asam dan basa, sedangkan kalsium berfungsi dalam pemeliharaan tulang dan gigi serta membantu kontraksi dan relaksasi pada otot. Salah satu sumber mikromineral yaitu ikan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kandungan kalium dan kalsium pada ikan kembung dan ikan gabus. Analisis kandungan kalium dan kalsium menggunakan metode Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS), terdiri atas: preparasi sampel dengan metode destruksi basah (HNO3 35% dan H2O2 30%), validasi metode dan analisis sampel ikan kembung dan ikan gabus. Kadar kalium pada ikan kembung adalah 64.391,16 mg/100 g +97,62 dan pada ikan gabus adalah 30.988,70 mg/100 g +230,62 sedangkan kadar kalsium pada ikan kembung adalah 29.197,6607 mg/100 g +17,77 dan pada ikan gabus adalah 21.369,7065 mg/100 g +13,99. Kandungan kalium dan kalsium pada ikan kembung dan ikan gabus  sangat berbeda, hal ini dikarenakan habitat pada ikan kembung dan ikan gabus berbeda.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 26-30 |


Analisis Kadar Kalsium Saliva dan Hubungannya dengan Pembentukan Karang Gigi
Faisal Kuswandani
Abstrak

Kalsium dan fosfat di dalam saliva penting dalam proses remineralisasi email dan berperan juga dalam pembentukan karang gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar kalsium saliva dengan pembentukan karang gigi. Sampel dilarutkan dalam larutan lanthanum (III) klorida konsentrasi tinggi yang berfungsi untuk  mengikat ion-ion pengganggu. Kadar kalsium di dalam saliva dianalisis dengan Spektroskopi Serapan Atom Nyala. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar kalsium saliva adalah 56,84 ppm sampai 121,91 ppm. Sampel dari kelompok studi memiliki kadar kalsium rata-rata 95,34 dan sampel dari kelompok pembanding memiliki kadar kalsium rata-rata 78,13 ppm. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sampel dari kelompok studi memiliki kadar kalsium lebih besar dari pada sampel dari kelompok pembanding, yang berarti bahwa semakin besar kadar kalsium dalam saliva akan semakin mudah seseorang terkena karang gigi.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 31-37 |