Rabu, September 26, 2018

Vol. 2, No. 2 (2015)

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 2, No. 2, 45-74 (2015).
http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v2i2


Determination of Salbutamol and Guaifenesin in Mixture Using Zero- Crossing Wavelength Measurement
Entris Sutisna, Farida Fauzia, Ida Musfiroh, Shelvy E Suherman
Abstrak

A mixture of salbutamol and guaifenesin in syrup was analyzed using zero-crossing wavelength method. NaOH 0.1 N was selected as the solvent. Zero-crossing wavelength of salbutamol is 246.2 nm and guaifenesin is 270.2 nm. Results showed that the recovery of salbutamol and guaifenesin are 95.96% and 93.94%, respectively, while the coefficient of variance is 0.995% for salbutamol and 0.2087% for guaifenesin. Limit of detection of salbutamol and guaifenesin are 0.05528 ppm and 9.443 ppm, respectively, while limit of quantification are 0.18427 ppm and 31.477 ppm. We concluded that this method could be applied to determine salbutamol and guaifenesin in mixture.

[collapse]

| Full HTML | PDF | 45-48 |


Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Antibakteri Kompleks Fe (III) dengan Derivat Schiff Base
Lasmaryna Sirumapea, Asmiyanti Asmiyanti, Anis Khoirunisa
Abstrak

Reaksi antara amina primer dengan karbonil menghasilkan basa Schiff (Schiff base) yang secara teori memiliki sifat antibakteri. Sifat antibakteri ini dapat ditingkatkan dengan pembentukan kompleks Schiff base dengan logam tertentu. Telah dilakukan sintesis senyawa Schiff base dan kompleksnya dari 4,4-diamino difenil eter, ortohidroksi benzaldehid dan ion logam Fe (III). Senyawa Schiff base dan kompleks yang terbentuk dikarakterisasi gugus fungsinya dengan spektrometer FT-IR. Senyawa yang terbentuk kemudian diuji aktivitas antibakterinya terhadap bakteri Staphylococcus aureus menggunakan metode difusi agar. Spektra senyawa Schiff base mempunyai puncak pada bilangan gelombang 1620,21 cm-1 dan spektra senyawa kompleks mempunyai puncak pada bilangan gelombang 1612,49 cm-1. Puncak pada senyawa Schiff base mengindikasikan adanya ikatan CH=N, pergeseran puncak pada kompleks Schiff base menunjukkan adanya ikatan antara nitrogen dengan ion logam. Hasil pengujian senyawa Schiff base dan kompleks terhadap bakteri S. aureus menunjukkan positif sebagai antibakteri S. aureus.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 49-54 |


Peningkatan Permeasi Mikroemulsi Ketoprofen
Dolih Gozali, Fara Warhead, Jutti Levita, Anis Khoirunisa
Abstrak

Penggunaan obat yang sukar larut air tidak efisien apabila kadar penetrasi obat ke dalam tubuh sangat kecil. Mikroemulsi ialah satu sistem dispersi yang dapat meningkatkan kelarutan obat. Pada penelitian ini dilakukan formulasi mikroemulsi ketoprofen menggunakan zat peningkat penetrasi mentol (0%, 1%, 3%, 5%). Asam oleat digunakan sebagai fase minyak, tween 80 sebagai komponen surfaktan, dan propilen glikol sebagai kosurfaktan. Evaluasi sediaan mikroemulsi dilakukan dengan uji permeasi mikroemulsi ketoprofen secara in vitro menggunakan sel difusi Franz terhadap membran kulit ular dengan medium dapar fosfat pH 7,4 selama 90 menit. Formula F4 (mengandung mentol 5%) menunjukkan permeasi tertinggi setelah 90 menit (16,21 ppm) dibandingkan dengan F1 (tidak mengandung mentol). Keempat formula memiliki kestabilan yang baik selama pengamatan. Dapat disimpulkan bahwa mentol meningkatkan permeasi ketoprofen.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 55-62 |


Pengujian Efek Antikalkuli dari Herba Seledri (Apium graveolens L.) secara In Vitro
Taofik Rusdiana, Sriwidodo Sriwidodo, Jajan Solahudin, Eli Halimah, Aep W Irwan, Suseno Amin, Sri A Sumiwi, Marline Abdassah
Abstrak

Tanaman seledri (Apium graveolens L.) mengandung berbagai senyawa metabolit sekunder antara lain flavonoid, polifenol, dan kuinon. Tanaman seledri selain untuk bumbu masakan dan sayuran, telah lama digunakan sebagai obat tradisonal untuk penurun tekanan darah tinggi (hipertensi), diuretik, dan hematuria. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap khasiat lain dari tanaman seledri sebagai antikalkuli atau peluruh batu ginjal. Pengujian efek antikalkuli (bagian dari uji preklinis) dilakukan secara in vitro yaitu dengan menguji tingkat kelarutan komponen batu ginjal (kalsium oksalat atau magnesium ammonium fosfat) sebagai solut (100 mg serbuk batu) dalam berbagai variasi konsentrasi sediaan cair seledri sebagai solven dibandingkan dengan solven air (volumen= 10 mL, suhu= 37 oC, waktu= 4 dan 24 jam). Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan infusa seledri pada konsentrasi 1,3; 3,3; dan 5,0% dapat melarutkan komponen kalsium dan magnesium batu ginjal dengan tingkat kelarutan yang secara signifikan lebih besar dibandingkan kelarutan dalam air sebagai kontrol negatif (konsentrasi 5%, Ca: 4,657 vs 199 ppm, Mg: 9,912 vs 9,37 ppm). Sementara fraksi air dari ekstrak metanol seledri juga menunjukkan daya larut yang signifikan terhadap baik kalsium maupun magnesium komponen batu ginjal pada konsentrasi pada 0,5% dibandingkan air (Ca: 3,7 vs 1,5 ppm dan Mg: 25,9 vs 14,5 ppm). Hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa herba seledri memiliki potensi sebagai peluruh batu ginjal dengan mekanisme melarutkan kristal komponen batu ginjal.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 64-67 |


Uji Aktivitas Sediaan Gel Shampo Minyak Atsiri Buah Lemon (Citrus limon Burm.)
Arif Budiman, Melina Faulina, Anna Yuliana, Anis Khoirunisa
Abstrak

Ketombe merupakan gangguan yang terjadi di kulit kepala di mana salah satu penyebabnya adalah jamur. Salah satu bahan alam yang diketahui dapat digunakan sebagai antiketombe adalah buah lemon. Kandungan yang terdapat di dalam minyak atsiri buah lemon seperti flavanoid, monoterpen, dan seskuiterpen diketahui memiliki aktivitas sebagai antijamur. Tujuan penelitian ini adalah untuk menguji aktivitas minyak atsiri buah lemon dalam bentuk sediaan gel sampo terhadap jamur Malassezia sp. Penelitian ini diawali dengan penetapan Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) dari minyak astsiri buah lemon secara mikrobiologi untuk mendapatkan konsentrasi bahan aktif dalam formulasi sediaan sampo gel. Orientasi formula meliputi variasi konsentrasi karbomer dan Hidroksi Propil Metil Selulosa (HPMC) sebagai basis gel. Evaluasi stabilitas sediaan gel meliputi pengamatan organoleptis, homogenitas, pH, dan viskositas. Dilakukan uji aktivitas antiketombe dari formula terbaik terhadap jamur Malassezia sp. Hasil menunjukkan bahwa Konsentrasi Hambat Minimum (KHM) minyak atsiri terhadap jamur Malassezia sp. adalah 0,5%. Formula yang menunjukkan hasil terbaik setelah evaluasi sediaan adalah formula yang mengandung basis HPMC sebanyak 6%. Sediaan sampo gel terbaik memiliki aktivitas sebagai antiketombe dengan memberika diameter hambat sebesar 29,4 mm terhadap jamur Malassezia sp.

[collapse]

| Full HTMLPDF | 68-74 |