AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK dan FRAKSI KULIT BATANG TRENGGULI (Cassia fistula L) DENGAN METODE DPPH

537

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 4, No. 2, 70-78 (2017).

Aji Najihudin, Anis Chaerunisaa, Anas Subarnas

Show more

Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia

Korespondensi : aji_tse@yahoo.co.id (Aji Najihudin)

[collapse]

Download citation | PDF (301 kb)

Abstrak/Abstract

Kata Kunci: Antioksidan, Cassia fistula, Fraksinasi, metode DPPH

Pendahuluan

Radikal bebas merupakan suatu senyawa atau molekul yang memiliki satu atau lebih elektron tidak berpasangan meyebabkan senyawa tersebut sangat reaktif mencari pasangan, dengan mengikat elektron molekul yang berada di sekitarnya. Radikal bebas dapat berasal dari dalam tubuh sebagai bagian dari hasil proses metabolisme. Sedangkan radikal bebas yang bersumber dari luar tubuh dapat disebabkan oleh faktor lingkungan, termasuk kebiasaan merokok, penggunaan pestisida pada makanan, polusi dan radiasi (Mbaoji et al., 2016).

Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron (donor elektron) yang dapat menghambat reaksi oksidasi, dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif. Antioksidan berperan menangkal radikal bebas dalam tubuh sehingga dapat melawan kerusakan oksidatif juga menghambat proses oksidasi lemak/minyak sehingga mempunyai fungsi sebagai pengawet (Brand-Williams, Cuvelier, & Berset, 1995).

Antioksidan memiliki kemampuan untuk menetralisir radikal bebas tanpa menjadi radikal bebas itu sendiri (Widyawati, 2016).

Ketika antioksidan menetralkan radikal bebas dengan menerima atau menyumbangkan elektron, mereka tidak akan berubah menjadi radikal bebas dan tetap stabil. Antioksidan banyak terdapat pada sayuran, buah-buahan dan tanaman obat (Fatima, Abderrahmane, Seddik, & Lekhmici, 2016).

Penggunaan bahan alam sebagai obat tradisional tidaklah cukup hanya berdasarkan pengalaman yang diwariskan secara turun-temurun, akan tetapi tumbuhan obat yang digunakan perlu dibuktikan secara ilmiah. Tumbuhan obat telah diketahui mengandung zat aktif yang dapat berkhasiat untuk penyembuhan penyakit. Berbagai penelitian telah dilakuakan untuk melihat aktivitas farmakologi dan kandungan kimia dari bahan alam. Salah satu bahan alam yang telah dilaporkan memiliki beberapa aktivitas farmakologi adalah trengguli (Cassia fistula L) (Jothy, Zuraini, & Sasidharan, 2011).

Ekstrak biji trengguli memiliki aktivitas antioksidan dengan menghambat DPPH (Bhalodia et al., 2011). Ekstrak biji methanol trengguli memiliki aktivitas antitumor (Gupta et al., 2000) dan ekstrak bunga trengguli menunjukan aktivitas antibakteri terhadap mikroorganisme gram positif dan memiliki aktivitas antifungi terhadap Trichophyton mentagrophytes dan Epidermophyton floccosum (Duraipandiyan & Ignacimuthu, 2007). Selain itu, senyawa antraquinon dari bunga trengguli memiliki sitotoksisitas terhadap sel kanker kolon manusia, COLO 320 DM (Duraipandiyan & Ignacimuthu, 2007).

Berbagai penelitian yang telah dilakukan menunjukan berbagai aktivitas farmakologi dari berbagai bagian tanaman trengguli. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan pada ekstrak dan fraksi n Heksan, etil asetat dan air dari kulit batang trengguli dengan metode peredaman radikal bebas DPPH.

Metode

Bahan
Bahan tumbuhan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kulit batang trengguli (Cassia fistula L) yang diambil Balai tanaman Obat Tradisonal (BALITRO) Manoko Lembang Kab Bandung Jawa Barat. Bahan kimia yang digunakan pada penelitian ini diantaranya yaitu etanol 70 %, etanol 96% pa, DPPH (2,2-difenil-1-pikril-hidrazil), vitamin C, n-heksan, etil asetat, aquadest, kloroform, metanol, pereaksi dragendorf, pereaksi mayer, pereaksi besi (III) klorida, pereaksi kalium hidroksida, asam klorida encer, HCl 2N, gelatin 1%, KOH 5%, iso amil alkohol, H2SO4, FeCl3 1%, asam asetat 0,7%.

Alat
Peralatan yang digunakan adalah batang pegaduk, botol semprot, gelas ukur, maserator, neraca analitik, vial 20 ml, vial 100 ml, pipet, corong, labu ukur 10 ml, labu ukur 100 ml, rotary evaporator, tabung reaksi, beaker glass, bejana kromatografi, pelat KLT silika gel GF 254, lampu UV 254 nm dan 366 nm, spektrofotometri dan kuvet, stopwach, dan alat laboratorium yang mendukung.

Pengumpulan Bahan dan Determinasi Tumbuhan
Bahan yang digunakan yaitu simplisia kulit batang tumbuhan trengguli dari spesies Cassia fistula L. yang diperoleh dari perkebunan Manoko, Lembang, Bandung. Determinasi tumbuhan dilakukan pada Laboratorium Taksonomi, Jurusan Biologi, Fakultas MIPA UNPAD.

Ekstraksi Simplisia
Ekstraksi simplisia kulit batang tumbuhan trengguli dilakukan dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 70% selama 3 kali 24 jam. Ekstrak cair dipekatkan dengan rotary evaporator pada suhu 600 C kemudian di uapkan diatas penangas air dengan suhu 40C sehingga diperoleh berat ekstrak yang konstan.
Rendemen ekstrak dapat dihitung dengan rumus:

Selanjutnya dilakukan pemeriksaan organoleptik ekstrak yang terdiri dari bentuk, warna, bau, dan rasa ekstrak.

Fraksinasi Ekstrak
Fraksinasi ekstrak dilakukan secara partisi dengan menggunakan campuran dua pelarut yang memiliki kepolaran yang berbeda. Campuran pelarut pertama adalah campuran n-heksan : air dan yang kedua adalah campuran etil asetat : air. Pertama. Ekstak etanol dengan berat tertentu dilarutkan dalam air dengan volume tertentu sehingga ekstrak terlarut semuanya, kemudian n-heksan dengan volume tertentu ditambahkan untuk melarutkan ekstrak yang terlarut dalam pelarut non polar. Campuran tersebut dimasukkan kedalam corong pisah dan dikocok kuat-kuat hingga diperoleh lapisan air dan lapisan n-heksan, kedua lapisan kemudian dipisahkan. Kedalam lapisan air, selanjutnya ditambahkan etil asetat dan campuran tersebut dikocok kuat-kuat sehingga diperoleh lapisan air dan lapisan etil asetat, dan kedua lapisan tersebut dipisahkan. Lapisan n-heksan, lapisan air dan lapisan etil asetat kemudian diuapkan dalam rotary evaporator hingga diperoleh fraksi n-heksan, fraksi etil asetat dan fraksi air (Hikmah, 2012).

Pola Kromatogram Lapis Tipis
Kromatografi lapis tipis dilakukan untuk mengetahui kandungan senyawa kimia di dalam ekstrak. Dalam analisis kromatografi lapis tipis digunakan fase diam yaitu pelat silika gel GF 254 dan fase gerak yaitu kombinasi pelarut toluene, etil asetat, dan asam format dengan perbandingan 5:4:1. Ekstrak dilarutkan terlebih dahulu dalam etanol lalu ditotolkan pada pelat silika gel ukuran 10 cm x 1,0 cm dan dimasukkan ke dalam bejana kromatografi yang sebelumnya telah dijenuhkan dengan cairan pengembang. Proses kromatografi dihentikan ketika cairan pengembang mencapai garis akhir. Pola kromatogram diamati pada sinar tampak di bawah lampu UV 254 dan 366 nm, kemudian dihitung nilai Rf.

Uji Pendahuluan Aktivitas Antioksidan Ekstrak dan Fraksi kulit Batang Trengguli

Penyiapan Sampel
Ekstrak etanol sebanyak 1% dibuat larutan stok dengan konsentrasi 1000 ppm sehingga diperoleh konsentrasi 0,1%. Larutan stok 1000 ppm dibuat larutan standar 2, 4, 6, 8, 10, 12 ppm.

Penyiapan Larutan Pembanding
Vitamin C sebanyak 1% dibuat larutan stok dengan konsentrasi 1000 ppm sehingga diperoleh konsentrasi 0,1%. Larutan stok 1000 ppm dibuat larutan standar 2, 4, 6, 8, 10, 12 ppm.

Pembuatan Larutan DPPH (2,2-dipenil- 1-pikril-hidrazil)
Kristal DPPH dilarutkan dalam etanol pada konsentrasi 0,01% b/v sebanyak 100 mL. Larutan DPPH dijaga dalam temperatur rendah dan terlindung cahaya.

Penentuan Panjang Gelombang Maksimum
Larutan DPPH sebanyak 1 ml diencerkan dengan etanol sampai tanda batas labu takar 5 mL, blanko digunakan 5 mL etanol, diukur pada panjang gelombang 500-530 nm untuk mendapatkan absorbansi ±0,2-0,8.

Penentuan IC50 dengan Metode DPPH
Ekstrak etanol, hasil fraksi maupun vitamin C dari berbagai konsentrasi masing-masing diambil 1 mL ditambahkan 1 mL DPPH, lalu divorteks dan diinkubasi selama 30 menit pada suhu kamar. Ukur absorbansinya pada panjang gelombang 515 nm. Dilakukan pengukuran serapan DPPH sebagai blanko pada panjang gelombang yang sama. Setelah diperoleh nilai absorban hitung % perendaman dengan menggunakan peramaan(Mbaoji et al., 2016)(Zuhra, Tarigan, & Sihotang, 2008) di bawah ini. Dari % perendaman yang diperoleh ditentukan IC50 yaitu konsentrasi yang mampu menghambat 50% radikal bebas.

Hasil

Hasil determinasi tumbuhan Cassia fistula ini termasuk ke dalam Famili: Fabaceae (suku polong-polongan), Genus: Cassia, Spesies: Cassia fistula L. Ekstraksi kulit batang trengguli (1000 g) secara maserasi dengan pelarut etanol 70% menghasilkan ekstrak kental kulit batang trengguli 33,6 (rendemen 33,6 %). Hasil penapisan fitokimia ekstrak kental kulit batang dapat dilihat pada Tabel 1.

Pembahasan

Fraksinasi ekstrak etanol kulit batang trengguli sebanyak 110 g dengan metode ekstraksi cair-cair menggunakan pelarut n– heksan, etil asetat, dan air dihasilkan data pengamatan organoleptik dan persen rendemen dari ekstrak dan seluruh fraksi. Hasil Pengamatan organoleptik dari ekstrak dan seluruh fraksi dapat dilihat pada tabel 2. Hasil fraksinasi bobot dan persen rendemen dari ekstrak dan seluruh fraksi dapat dilihat pada tabel 3.

Kromatografi lapis tipis (KLT) dilakukan dengan menggunakan lempeng silika gel GF 254, dengan pengembang toluene, etil asetat, dan asam format dengan perbandingan 5:4:1. Hasil KLT dilihat pada sinar tampak, UV 254 nm dan UV 366 nm Hasil KLT dapat dilihat pada Tabel 4.

Hasil Uji Aktivitas Antioksidan: Pemeriksaan aktivitas antiradikal bebas DPPH secara spektrofotometri dilakukan dengan mereaksikan sampel dengan larutan DPPH. DPPH merupakan radikal sintetik yang larut dalam pelarut polar seperti metanol dan etanol. DPPH merupakan radikal yang stabil yang dapat diukur intensitasnya pada panjang gelombang 515 nm (Brand-Williams et al., 1995)(Thaipong, et al., 2006).

Pengukuran absorbansi sampel dilakukan pada konsentrasi 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm, dan 12 ppm. Uji daya antioksidan dengan metode DPPH (2,2- difenil-1-pikril hidrazil) dimaksudkan untuk menguatkan aktivitas suatu senyawa uji (ekstrak etanol dan seluruh fraksi kulit batang trengguli) sebagai antioksidan karena sebagaimana diketahui daya antioksidan dapat dilakukan dengan berbagai macam metode (Rohman, 2006). Hasil pengujian aktivitas antioksidan ekstrak etanol 70%, fraksi n-heksan, etil asetat, dan air kulit batang trengguli dapat dilihat pada Tabel 5-8.

Sebagai pembanding digunakan vitamin C yang sudah diketahui sebagai antioksidan. Hasil pengukuran daya Antioksidan vitamin C dengan metode DPPH pada Tabel 8. Hubungan antara konsentrasi antioksidan ekstrak etanol 70%, fraksi n-heksan, etil asetat, dan air kulit batang trengguli terhadap persen inhibisi dapat dilihat pada gambar 1.

Tabel 10 menunjukkan bahwa fraksi etil asetat mempunyai daya antioksidan dengan metode DPPH dengan nilai IC50 sebesar 3,980 μg/ml. IC50 merupakan konsentrasi kulit batang trengguli yang mampu memberikan persen penangkapan radikal sebanyak 50 % dibanding kontrol melalui suatu persamaan garis regresi linier, semakin kecil nilai IC50 berarti semakin kuat daya antioksidannya. Fraksi Etil asetat memiliki aktivitas yang lebih baik diantara kontrol, ekstrak dan fraksi lain dengan nilai IC50 3,980 μg/ml dibandingkan dengan vitamin C dengan nilai IC50 4,716 μg/ml.

Simpulan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol, fraksi n-heksan, fraksi etil asetat, dan fraksi air kulit batang trengguli memberikan aktivitas antioksidan dengan metode DPPH. Fraksi etil asetat memiliki aktivitas antioksidan paling baik dengan nilai IC50 3,980 μg/ml dibandingkan vitamin c dengan nilai IC50 4,716 μg/ml. Sedangkan nilai IC50 ekstrak etanaol, fraksi n-heksan, fraksi air adalah 10,613 μg/ml, 38,904 μg/ml dan 7,636 μg/ml.

Daftar Pustaka

1. Brand-Williams, W., Cuvelier, M. E., & Berset, C. Use of a free radical method to evaluate antioxidant activity. LWT – Food Science and Technology,1995; 28(1), 25–30.
2. Duraipandiyan, V., & Ignacimuthu, S. Antibacterial and antifungal activity of Cassia fistula L .: An ethnomedicinal plant, 2007; 112, 590–594.
3. Fatima, Z., Abderrahmane, B., Seddik, K., & Lekhmici, A. Antioxidant Activity Assessment Of Tamus Communis L . Roots, 2016; 8(12).
4. Gupta, M., Mazumder, U. K., Rath, N., & Mukhopadhyay, D. K. Antitumor activity of methanolic extract of Cassia fistula L . seed against Ehrlich Ascites Carcinoma, 2000; 72, 151–156.
5. Hikmah, F. dinul. Pengaruh partisi bertingkat cair-cair ekstrak etanol rimpang jahe (Zingiber officinale Rosc.) terhadap profil kandungan senyawa kimia dan aktivitas antiradikalnya. Pengaruh Partisi Bertingkat Cair-Cair Ekstrak Etanol Rimpang Jahe (Zingiber Officinale Rosc.) Terhadap Profil Kandungan Senyawa Kimia Dan Aktivitas Antiradikalnya, 2012; 1–17.
6. Jothy, S. L., Zuraini, Z., & Sasidharan, S. Phytochemicals screening, DPPH free radical scavenging and xanthine oxidase inhibitiory activities of Cassia fistula seeds extract. Journal of Medicinal Plants Research, 2011; 5(10), 1941–1947.
7. Mbaoji, F. N., Ezike, A. C., Nworu, C. S., Onyeto, C. A., Nwabunike, I. A., Okoli, I. C., & Akah, P. A. Antioxidant And Hepatoprotective Potentials Of Stemonocoleus Micranthus Harms ( Fabaceae ) Stem Bark Extract, 2016; 8(7).
8. Rohman, A. Aktivitas antioksidan , kandungan fenolik total dan kandungan flavonoid total ekstrak etil asetat buah Mengkudu serta fraksi-fraksinya, 2006; 17(3), 136–142.
9. Thaipong, K., Boonprakob, U., Crosby, K., Cisneros-Zevallos, L., & Hawkins Byrne, D. Comparison of ABTS, DPPH, FRAP, and ORAC assays for estimating antioxidant activity from guava fruit extracts. Journal of Food Composition and Analysis, 2006; 19(6- 7), 669–675.
10. Widyawati, P. S. R. I. Determination Of Antioxidant Capacity In Pluchea Indica Less Leaves Extract And Its Fractions, 2016; 8(9).
11. Zuhra, C. F., Tarigan, J. B., & Sihotang, H. Aktivitas Antioksidan Senyawa Flavonoid Dari Daun Katuk (Sauropus androgunus (L) Merr .), 2008; 3(1), 10–13.