PENINGKATAN KELARUTAN DAN DISOLUSI GLIMEPIRID MELALUI METODE KOKRISTALISASI

160

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 4, No. 1, 35-41 (2017). http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v4i1.9008

Fitrianti Darusman1), Sundani N Soewandhi2), Rachmat Mauludin3)

Show more

1)Prodi Farmasi, FMIPA, Universitas Islam Bandung, Indonesia
2)Sekolah Farmasi, Institut Teknologi Bandung, Indonesia
Korespondensi : efit_bien@yahoo.com (Fitrianti Darusman)

[collapse]

Download citation | PDF (971 kb)

Abstrak/Abstract

Kata Kunci: glimepirid, kokristalisasi, eutektik, kelarutan dan laju disolusi.

Pendahuluan

Glimepirid (GMP) adalah obat antidiabetik oral dari golongan sulfonilurea generasi ketiga yang mampu menurunkan kadar glukosa darah. GMP memiliki keunggulan penting dibandingkan dengan golongan sulfonilurea lainnya, yaitu dosisnya rendah, onset yang cepat, durasi kerja yang lama dan efek samping hipoglikemia yang kecil.1 Namun GMP ini termasuk obat dalam BCS kelas II dengan kelarutan yang praktis tidak larut dalam air, sehingga berpengaruh pada laju disolusi dan bioavailabilitasnya. Kelarutan GMP sangat dipengaruhi oleh pH. Pada media air, GMP menunjukkan kelarutan yang sangat kecil yaitu <0,00384 mg/mL pada suhu 37°C. Sedangkan pada media dapar pH>7, kelarutan GMP sedikit meningkat hingga 0,02 mg/mL.2,3

Berbagai teknik untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi obat telah banyak dilaporkan seperti pembuatan dispersi padat, pembentukan prodrug, kompleks inklusi obat dengan pembawa siklodektrin, modifikasi senyawa menjadi bentuk garam dan solvat, mikronisasi/ nanonisasi, polimorfisme, dan sebagainya. Salah satu teknik menarik dan sederhana yang baru-baru ini dikembangkan adalah kokristalisasi. Teknik ini dapat meningkatkan kelarutan dan laju disolusi obat-obat yang sukar larut dalam bentuk padat, dengan menggabungkan dua atau lebih komponen, dimana salah satunya bertindak sebagai host (tuan rumah) dan komponen lainnya bertindak sebagai guest (tamu) atau disebut juga cocrystal former (koformer), yang membentuk satu kristal secara bersama-sama melalui ikatan non kovalen. Teknik kokristalisasi ini dapat membentuk campuran eutektik sederhana, larutan padat (campuran kristal atau solid solution) dan senyawa molekular (fase kokristalin baru atau padatan kokristal).

Telah banyak dilaporkan penelitian tentang teknik kokristalisasi dalam upaya peningkatan kelarutan dan disolusi suatu zat aktif obat terutama yang termasuk dalam BCS kelas II, diantaranya karbamazepin dengan   sakarin4     dan   karbamazepin dengan nikotinamid5. Hasil kokristalisasi menunjukkan profil kelarutan yang lebih tinggi dibandingkan karbamazepin tunggal. Pada  GMP,  penelitian  dalam  upaya peningkatan kelarutannya, antara lain dengan pembentukan senyawa kompleks inklusi GMP dengan dimetil β-siklodekstrin.6 Pembuatan dispersi padat dengan menggunakan matriks polimer polivinilpirolidon dan gelucire menunjukkan peningkatan profil disolusi dari GMP.7,8 Namun, hingga saat ini teknik kokristalisasi dalam upaya peningkatan kelarutan dan disolusi GMP belum pernah dilaporkan.

Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kelarutan dan laju disolusi dari GMP menggunakan teknik kokristalisasi dengan koformer yang sesuai.

Metode

Alat

Spektrofotometer UV-Vis (Beckman DU-7000), Spektrofotometer FT-IR, Pengaduk orbital (GFL 1092), difraktometer sinar-X serbuk (Bruker D8 Advance), mikroskop polarisasi (Olympus BX-50), kamera CMOS (Olympus SC30), hot stage (Mk3-OMROM EcK5), instrumen DSC-TGA (STA PT1600, Linseis Thermal Analysis), Scanning Electron Microscope (JSM-6510LV, JEOL USA Inc.), dissolution tester (Beckman), timbangan analitik (Mettler Toledo AG204) dan vortex mixer (JEIO Tech).

Bahan

Glimepirid (Glenmark, India), asam oksalat (Sigma Aldrich ), aseton p.a., metanol p.a., kalium dihidrogen fosfat p.a., dinatrium hidrogen fosfat p.a.

Prosedur

Karakteristik fisik GMP dan AO ditentukan dengan pengamatan pada mikroskop polarisasi, analisis termal dengan DSC, analisis kristalografi dengan PXRD, analisis gugus fungsi dengan FT-IR dan pengamatan morfologi dengan SEM.

Campuran biner GMP-AO disiapkan dengan melakukan pencampuran fisik pada berbagai komposisi berdasarkan fraksi mol. Sifat fisik sistem biner dikarakterisasi dengan analisis termal DSC kemudian dibuat diagram fase sistem biner GMP-AO. Selanjutnya, dilakukan identifikasi interaksi GMP-AO dengan analisis mikroskopik menggunakan mikroskop polarisasi yang dihubungkan dengan alat pemanas (hot stage).

Interaksi yang terjadi merupakan campuran eutektik sederhana antara GMP dan AO pada perbandingan molar 3:7 yang dibuat dengan teknik neat grinding (NG), solvent drop-grinding (SDG) dan solvent evaporation (SE). Sampel hasil kokristalisasi dikarakterisasi dengan DSC, FT-IR, PXRD dan SEM, kemudian dilakukan evaluasi kinerja kokristalisasi dengan pengujian kelarutan dan laju disolusi.

Hasil dan Pembahasan

Identifikasi interaksi GMP-AO dengan diagram fase (DSC) dan mikroskop polarisasi (HSM)

Diagram fase sistem biner GMP-AO pada rasio molar (3:7) dari gambar 1 menunjukkan interaksi eutektik sederhana dengan titik eutektik 128,7°C.

Untuk menegaskan interaksi yang terjadi antara GMP dan AO (3:7) adalah eutektik sederhana, dilakukan analisis mikroskopik polarisasi pada campuran fisika keduanya. Dari Gambar 2 hasil rekristalisasi menunjukkan tidak terbentuknya habit kristal baru, dimana GMP hanya terdispersi pada AO, sehingga menegaskan bahwa interaksi GMP-AO (3:7) merupakan eutektik sederhana.

Gambar 1. Diagram fase sistem biner campuran fisika GMP dan AO ; TA = titik leleh GMP, TB = titik leleh AO, TE = titik eutektik

Gambar 2. Mikrofoto Kristal habit

Ket. : A) GMP, B) AO, C) GMP-AO

Gambar 3.Termogram DSC serbuk.

Ket. : A) GMP, B) AO, C) campuran fisika GMP-AO (3:7), D) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan NG, E) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SDG, F) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SE.

 

Karakteristik sifat fisikokimia dan kristalografi DSC (Differential Scanning Calorimetry)

Pada Gambar 3 termogram DSC GMP dan AO murni menunjukkan puncak endotermik pada 204,1°C dan 183,5°C, yang merupakan peristiwa leburan padatan masing-masing komponen (Gambar A dan B). Dari termogram DSC ini mengindikasikan penurunan titik lebur sistem biner hasil kokristalisasi yang diduga terbentuknya campuran eutektik antara GMP dan AO pada 130,7°C.

PXRD (Powder X-Ray Diffraction)

Dari gambar 4 difraktogram sinar-X terlihat bahwa padatan hasil interaksi antara GMP dan AO memiliki pola difraksi yang sama dengan campuran fisikanya, hanya berbeda pada intensitas puncak interferensi yang menunjukkan perbedaan derajat kristalinitas. Hal ini mengindikasikan bahwa kokristalisasi antara GMP-AO (3:7) dan tidak menghasilkan fase kristalin baru (senyawa molekular) melainkan konglomerasi kedua fasa kristal dalam keadaan padat atau disebut campuran eutektik sederhana.FT-IR (Fourier Transform-Infra Red)

Pada gambar 5 menunjukkan spektrum FT-IR campuran fisika sama dengan padatan hasil perlakuan GMP-AO (3:7). Hal ini mempertegas bahwa tidak terjadi interaksi kimiawi pada saat proses kokristalisasi kedua komponen.

SEM (Scanning Electron Microscope) Pada gambar 6 mikrofoto SEM, partikel GMP murni berukuran sangat kecil yaitu sekitar 0,5-5 µm, dan terlihat adanya penggumpalan/aglomerasi. Hal inilah yang menyebabkan GMP bersifat hidrofobik sehingga praktis tidak larut dalam air.

GMP murni menunjukkan habit yang berbeda dengan AO (Gambar 6B). Namun padatan hasil perlakuan NG, SDG dan SE tidak menunjukkan habit yang berbeda bila dibandingkan antara GMP murni dengan campuran fisika GMP-AO.

Gambar 4.Difraktogram sinar-X serbuk

Ket. :A) GMP, B) AO, C) campuran fisika GMP-AO (3:7), D) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan NG, kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SDG, F) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SE.

Gambar 5.Spektrum FT-IR dengan pelet KBr

Ket. : A) GMP, B) AO, C) campuran fisika GMP-AO  (3:7),  D)  kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan NG, kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SDG, F) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SE.

Padatan hasil perlakuan SE menunjukkan ukuran partikel yang paling besar, karena tidak adanya proses pengecilan ukuran partikel. Hal ini ditegaskan pula dari difraktogram perlakuan SE yaitu menunjukkan intensitas puncak paling tinggi, yang berarti derajat kristalinitas yang lebih tinggi pula. Sedangkan padatan perlakuan SDG menunjukkan ukuran partikel yang paling kecil, relevan dengan difraktogram SDG yang menunjukkan puncak-puncak yang landai/rendah, yang berarti derajat amorfus yang tinggi pula.

Evaluasi hasil kokristalisasi dengan uji kelarutan dan disolusi

Pada uji kelarutan dan laju disolusi GMP-AO (3:7) dilakukan penetapan kadar GMP terlarut secara spektrofotometri ultraviolet pada panjang gelombang serapan maksimum 228 nm.

Gambar 6. Mikrofoto SEM serbuk

Ket. : A) GMP (0-5-5 µm), B) AO (100-500 µm, C) campuran fisika GMP-AO (3:7) (1-10 µm), D) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan NG (1-25 µm), kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SDG (1-25 µm), F) kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SE (10-100 µm).

Tabel 1. Hasil uji kelarutan GMP-AO (3:7)

Gambar 7. Profil laju disolusi serbuk

Ket. : A. GMP murni, B. Campuran fisik GMP-AO (3:7), C. kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan NG, D. kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SDG, E. kokristalisasi GMP-AO (3:7) dari perlakuan SE.

Peningkatan kelarutan dan laju disolusi GMP dengan kokristalisasi menggunakan AO terjadinya karena interaksi eutektik dengan mekanisme pengurangan ukuran partikel akibat perlakuan penggilingan/ grinding (SDG) sehingga menjadi lebih amorf.

Namun pada GMP-AO perlakuan SE menunjukkan profil disolusi yang paling rendah daripada perlakuan SDG. Hal ini disebabkan ukuran partikel GMP-AO perlakuan SE yang besar dan tidak mengalami proses pengayakan terlebih dahulu. Ukuran partikel sangat mempengaruhi laju disolusi, dimana semakin kecil ukuran partikel atau semakin besar luas permukaan kontak, maka laju disolusi akan semakin cepat. Disamping itu pengaruh solubilisasi dari AO yang lebih mudah larut air juga ikut berkontribusi terhadap peningkatan kelarutan dan laju disolusi GMP, karena GMP terdispersi dalam AO.

Simpulan

Metode kokristalisasi GMP-AO pada perbandingan molar 3:7 dengan perlakuan penggilingan dan penguapan pelarut menghasilkan interaksi eutektik sederhana, dengan titik eutektik pada temperatur masing-masing 128,7°C.

Pembentukan eutektikal ini dapat meningkatkan kelarutan GMP dari 0,010384 mg/mL menjadi 0,038132 mg/ mL dengan laju disolusi GMP dari 18,28% menjadi 26,93%.

Daftar Pustaka

  1. Ammar, O., H.A. Salama, M. Ghorab, A. Mahmoud. Formulation and Biological Evaluation of Glimepiride- Cyclodextrin-Polymer Systems. Int.   J.   Pharm.   2006;309,    129-138.
  2. Vishweshwar, , Weyna, D.R., Shattock, T., dan Zaworotko, M. J. Synthesis  and Structural Characterization of Co- crystal and Pharmaceutical Co-crystal. Mechanochemistry vs Slow Evaporation from Solution. Crystal Growth & Design. 2009. Vol.9, No. 2 : 1106-1123.
  3. Nichols, Dick. Solid State Characterization of Pharmaceuticals, A.,Storey.,I.Ymen,JohnWiley&Sons Ltd., United Kingdom. 2011 : 287-346.
  4. Hickey, B., Peterson, M. L., Scoppettuolo, L. A. Morrisette, S. L., Vetter, A. Guzman, H., Remenar,  J.  F., Zhong Zhang, Tawa, M. D., Haley, S., Zaworotko, M. J., and Almarsson, Orn.     Perfomance     Comparison    of a   Co-Crystal   of   Carbamazepine  with Marketed Product, European Journal of Pharmaceutics and Biopharmaceutics.   2007;67,   112-119.
  1. Buanz,   B.  M.,   Parkinson,   G.   N., & Gaisford, S. Carbamazepine- Nicotinamide         Cocrystal of Polymorphs  with   Rapid   Heating DSC  and  XRPD.   Crystal   Growth   &     Design.     2011     :      1177-1181.
  2. Ammar, O., H. A. Salama, M. Ghorabb, A. A. Mahmoud. Inclusion complexation of glimepiride in dimethyl-β-cyclodextrin. Asian Journal of Pharmaceutical    Sciences.   2007.
  3. Liu, R., 2000, Water Insoluble drug Formulation, Taylor and Francis Group, Boca Raton, London, 493-517
  4. Rana R.M, Randa L, Ehab A.H, Omaima N. Optimization for Glimepiride Dissolution Enhancement Utilizing Different Carriers and Techniques. Journal of Pharmaceutical Investigation, 2013.