Pengaruh Jenis Penyalut Terhadap Stabilitas Likopen Dalam Bentuk Sediaan Mikrokapsul

1324

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 3, No. 3, 78-118 (2016). http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v3i3.9558
Amila, Cepy Hadiansyah, Yukeu Fazriah, Fitrianti Darusman, Indra Topik

Show more

Program Studi Farmasi Universitas Islam Bandung, Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Korespondensi: amilagadriapt@gmail.com (Amila)

[collapse]

Download citation | PDF (184 kb)

Abstrak/Abstract

Berbagai penelitian membuktikan bahwa likopen dapat menurunkan resiko berbagai penyakit seperti gangguan kardiovaskular, diabetes, hiperkolesterolemia dan kanker. Akan tetapi, likopen sangat mudah mengalami reaksi isomerisasi dan oksidasi selama proses pengolahan maupun penyimpanan karena memiliki banyak ikatan tak jenuh, sehingga aktivitasnya jadi menurun. Oleh sebab itu, untuk meningkatkan stabilitas likopen dilakukan teknik mikroenkapsulasi. Tujuan dari penelitan ini adalah mengetahui pengaruh jenis penyalut terhadap stabilitas likopen hasil mikroenkapsulsi dengan metode spray dry. Jenis penyalut yang digunakan adalah Hidroksi propil β-siklodekstrin (M1) dan kombinasi Whey protein-Maltodekstrin (M2). Mikrokapsul yang diperoleh dievaluasi meliputi Efisiensi Enkapsulasi (EE), kandungan lembab dan sifat organoleptis, lalu dilanjutkan dengan pengujian stabilitas pada suhu kamar dengan dua kondisi yang berbeda yaitu terpapar cahaya dan tidak terpapar cahaya. Hasil evaluasi menunjukan nilai EE untuk M1 dan M2 adalah 7,6 % dan 8,2 %, Kandungan lembab M1 dan M2 berturut-turut adalah 5,4 dan 5,1%, dan semua formula menunjukan sifat organoleptis yang hampir sama yaitu berbentuk serbuk berwarna jingga dengan bau khas. Hasil uji stabilitas menunjukan bahwa baik M1 maupun M2 tidak mengalami penurunan kadar selama 4 minggu penyimpanan pada tempat tidak terpapar cahaya, sedangkan pembanding dalam bentuk serbuk likopen bebas mengalami penurunan kadar sebesar 40,9%. Pada penyimpanan terpapar cahaya M1 dan M2 mengalami penurunan kadar masing masing sebesar 48,7% dan 43,37%, sedangkan pembanding 96,75%. Kesimpulan yang didapat adalah penyalut HPBCD dan kombinasi WP-MD dapat meningkatkan stabilitas likopen dalam bentuk mikrokapsul.
Many studies suggeststhat lycopene has an ability to decrease the risk of many diseases such as cardiovascular disorders, diabetes, hypercholesterolemia, and cancer. However due to its high degree unsaturation, lycopene is inclined in isomerize and oxidize by processing and storage condition. Hence, in order to increase the stability of lycopene the technology of microencapsulation was involved. This research aimed to study the effect of encapsulant type on the stability of microencapsulated lycopene that proceed spray drying. Two different encapsulant were comparatively studied: Hydroxy propyl β-cyclodextrin (M1) and combination of whey protein-Maltodextrin (M2). The microcapsules were evaluated based on Encapsulaton Efficiency (EE),Moisture Content (MC), and Organoleptic (forms, colours and flavour) and then submitted to the stability test were applied at two different conditions, presence and absence of light at room temperature. The EE values of M1 and M2 were 7,6 and 8,2 % , respectively. The MC of M1 and M2 were 5.40 and 5.1%, respectively and all formula have orange powder forms with spesific flavour. The stability test showed that M1 and M2 had no reduction of concentration at absence of light condition, the free form lycopene had 40,9% reduction. At the presence of light condition of M1was found 46% loss of lycopene, M2 was 46% and the free form was 96,75%. Based on this study, HBCD and combination of WP-MD as encapsulant were effected to increase the stability of lycopene on microcapsul form.

Kata kunci: Likopen, hidroksi propil β-siklodekstrin, whey protein, maltodekstrin, stabilitas

Pendahuluan

Karotenoid merupakan suatu golongan senyawa yang memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Pigmen ini banyak digunakan sebagai pewarna alami pada produk pangan, kosmetik dan pakan hewan.1 Likopen bukan merupakan nutrisi esensial untuk manusia. Akan tetapi pemanfaaatan likopen banyak ditemukan dalam produk makanan seperti saus tomat.

Likopen yang diabsorbsi melalui saluran cerna akan didistribusikan ke seluruh tubuh oleh darah dengan bantuan berbagai lipoprotein. Likopen akan terakumulasi pada liver, kelenjar adrenal, prostat dan testis. Diantara semua senyawa golongan karotenoid, likopen memiliki aktivitas antioksidan yang paling kuat. Senyawa ini memiliki kemampuan untuk meredam radikal bebas oksigen singlet dan hidroksi peroksil yang merupakan radikal yang paling bertanggung jawab pada kerusakan DNA pada patologi kanker. Kemampuan tersebut mejadikan likopen banyak diteliti sebagai senyawa anti kanker terutama kanker prostat.2 Senyawa ini disintesa oleh banyak tanaman dan mikroorganisme, berperan sebagai pembentuk warna serta pelindung dari efek toksik oksigen dan cahaya. Tomat merupakan salah satu sumber likopen yang sangat mudah didapat. Kandungan likopen pada tomat bervariasi dari 0,85 mg sampai 13,6 mg/100 g tergantung pada kematangan buah.3

Likopen merupakan senyawa tak jenuh, terdiri dari 40 molekul karbon asiklik dengan 11 ikatan rangkap terkonjugasi dan 2 tidak terkonjugasi dalam konfigurasi alami trans. Konfigurasi trans ini merupakan bentuk yang paling stabil secara termodinamika.3

Paparan temperatur tinggi, oksigen dan cahaya dapat mempercepat terjadinya isomerisasi dan degradasi likopen. Isomerisasi dapat mengubah isomer trans menjadi isomer cis, yang mengakibatkan penurunan aktivitas biologis likopen.4

Salah satu teknik yang dapat dilakukan untuk meningkatkan stabilitas likopen dari pengaruh lingkungan luar adalah dengan membuat dalam bentuk sediaan mikrokapsul. Mikroenkapsulasi didefinisikan sebagai suatu proses dimana mikropartikel atau droplet dibungkus oleh suatu bahan pembentuk dinding. Dinding mikrokapsul salah satunya dapat berfungsi sebagai pelindung secara fisik bagian inti terhadap pengaruh lingkungan luar yang tidak menguntungkan seperti cahaya, kelembaban dan oksigen.5

Teknik mikroenkapsulasi yang paling banyak digunakan adalah spray dry. Spray dry adalah suatu proses dehidrasi yang paling cocok digunakan untuk bahan yang tidak tahan pemanasan. Bahan penyalut yang dapat digunakan dengan metode spray dry antara lain adalah karbohidrat dengan bobot molekul rendah, whey protein, gelatin dan gum.5 Selain itu, senyawa lain yang dapat digunakan adalah siklodekstrin.

Senyawa ini memiliki bagian inti yang bersifat hidrofobik sehingga memungkinkan terjadinya interaksi fisikokimia dengan karotenoid, membentuk suatu kompleks inklusi yang stabil.1

Perbedaan jenis penyalut akan mempengaruhi tipe mikrokapsul yang terbentuk. Tipe mikrokapsul dapat berupa inti yang disalut oleh dinding monolayer atau multi layer, atau tipe matriks dimana tidak hanya terdapat satu inti melainkan inti terdispersi dalam matriks penyalut.

Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat pengaruh jenis penyalut mikrokapsul terhadap stabilitas likopen. Penyalut yang digunakan adalah Hidroksi Propil β-siklodekstrin dan kombinasi whey protein dan maltodekstrin. Perbandingan bahan penyalut dan bahan inti yang digunakan dalam penelitian ini merupakan hasil optimasi dari penelitian sebelumnya yang masing masing dilakukan oleh Hadiansyah dkk (2016)6 dan Fazriah dkk (2016)7.

Metode

Alat

Alat – alat yang digunakan pada penelitian ini adalah alat semprot kering/ spray dryer (BUCHI-190), mesin penghalus (blender), timbangan analitik (Mettle Toledo), rotary vacuum evaporator (IKA), sonikator (BRANSON 2800), vortex (Thermo Scientific), Spektrofotometer UV-Visible (Shimadzu® UV-1800), vortex (Thermo Scientific), moisture balance (Mettler Toledo MJ33), Ultra turax(IKA) dan alat-alat gelas yang umum digunakan di laboratorium.

Bahan

Bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah buah tomat (Lycopersicum esculuntum Mill) diperoleh dari perkebunan tomat di daerah Lembang, Kabupaten Bandung, n-heksan, whey protein, maltodekstrin, hidroksi propil β-siklodekstrin (Kleptosel), tween 80, aqua DM, Ethanol, kertas perkamen, kain batis dan alumunium foil.

Prosedur

Penyiapan Konsentrat Likopen

Konsentrat likopen dibuat dengan terlebih dahulu dibuat pasta tomat. Pasta tomat dibuat dengan cara menghancurkan tomat menggunakan blender, kemudian disaring dengan menggunakan kain batis.

Residu dikeringkan dalam lemari pengering suhu 400C sampai menjadi serbuk kering. Serbuk kemudian dimaserasi menggunakan pelarut n-heksan. Maserat yang didapat diuapkan hingga diperoleh ekstrak kental yang disebut sebagai konsentrat likopen.

Pembuatan Mikrokapsul Konsentrat Likopen

  1. Pembuatan mikrokapsul dengan penyalut Hidroksi propil β-siklodekstrin Hidroksi   propil   β-siklodekstrin (HPBC)  dilarutkan  dalam  air  dan ekstrak   likopen   dilarutkan   dalam n-heksan  sampai  terlarut.  Larutan HPBC  dicampurkan  dengan  larutan ekstrak likopen untuk membuat inklusi antara  larutan  β-siklodekstrin  dan likopen dengan perbandingan molaritas antara β- siklodekstrin-likopen yaitu 1:1.8 Campuran tersebut ditambahkan 5 ml Tween 80 lalu diaduk menggunakan magnetik stirrer pada kecepatan 200 rpm selama 5 jam. Selanjutnya campuran larutan diubah menjadi mikrokapsul dengan alat pengering semprot. Alat pengering semprot yang digunakan diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai suhu inlet 1800C, suhu outlet 1000C, laju alirnya 60 rpm dan tekanan semprot pada skala 2 bar.
  2. Pembuatan mikrokapsul dengan penyalut kombinasi Whey protein dan Maltodekstrin. Tahap pertama enkapsulan kombinasi Whey protein (WP) dan Maltodekstrin (MD) dengan perbandingan bobot 2:1 dicampur dengan 300 ml air bebas ion, diaduk pada 60ºC selama 30 menit. Selanjutnya dilakukan pembuatan emulsi dengan menambahkan konsentrat likopen hasil ektraksi pada campuran enkapsulan tersebut. Pembuatan emulsi ini dilakukan dengan ultra turax 7000 rpm selama 60 menit. Untuk mendapatkan mikrokapsul, emulsi kemudian dikeringkan dengan spray dryer pada suhu inlet 180ºC dan outlet 90ºC sehingga mikrokapsul memadat karena adanya pemanasan.9

Karakterisasi Hasil Mikroenkapsulasi

  1. Efisiensi Enkapsulasi (EE)

Efisiensi enkapsulasi diuji dengan cara memecah mikrokapsul yang dilarutkan dalam metanol dengan cara sonikasi, dan ditetapkan kadarnya dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 350-550 nm. Efisiensi enkapsulasi dihitung dengan membandingkan jumlah obat dalam mikrokapsul dengan jumlah obat yang secara teori dimasukkan ke dalam formula:

Pengaruh Jenis Penyalut Terhadap Stabilitas Likopen Dalam Bentuk Sediaan Mikrokapsul

2. Penentuan Kadar Lembab
Kadar air mikrokapsul dievaluasi dengan menggunakan moisture analyzer. Sejumlah mikrokapsul diletakkan diatas wadah aluminium kemudian diukur pada suhu 1050C. Kadar air ditentukan berdasarkan kadar yang tertera pada alat.

Uji Stabilitas Mikrokapsul

Uji stabilitas dilakukan dengan menyimpan mikrokapsul pada suhu kamar selama 4 minggu. Penyimpanan dilakukan pada dua kondisi yaitu terpapar cahaya dan tidak terpapar cahaya. Penetapan kadar dilakukan setiap minggu menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 465 nm. Sebagai pembanding digunakan kurva kalibrasi antara konsentrasi konsentrat likopen dan absorbansinya pada panjang gelombang 465 nm.

Hasil

Tabel 1. Karakteristik Mikrokapsul Dengan Penyalut HPBCD (M1)

Pengaruh Jenis Penyalut Terhadap Stabilitas Likopen Dalam Bentuk Sediaan Mikrokapsul

Tabel 2. Karakteristik Mikrokapsul Dengan Penyalut WP-MD (M2)

penyalut

Tabel 3. Perubahan Organoleptis Pada Penyimpanan Terpapar Cahaya

Perubahan Organoleptis Pada Penyimpanan Terpapar Cahaya

Keterangan :
(+++) = Bentuk : Serbuk Warna : Oranye
Bau : Bau ekstrak
Seiring berkurangnya (+) ditandai dengan adanya perubahan bentuk, warna, dan bau.

Tabel 4. Perubahan Organoleptis Pada Penyimpanan Tidak Terpapar Cahaya

Perubahan Organoleptis Pada Penyimpanan Terpapar Cahaya

Keterangan :
(+++) = Bentuk : Serbuk Warna : Oranye
Bau : Bau ekstrak
Seiring berkurangnya (+) ditandai dengan adanya perubahan bentuk, warna, dan bau.

Perubahan Organoleptis Pada Penyimpanan Terpapar Cahaya

Gambar 1. Kurva Kalibrasi Konsentrasi Konsentrat Likopen terhadap Absorbansi
Tabel 5. Kadar Likopen Pada Penyimpanan Terpapar Cahaya

Perubahan Organoleptis Pada Penyimpanan Terpapar Cahaya

Tabel 6. Kadar Likopen Pada Penyimpanan Tidak Terpapar Cahaya

Perubahan Organoleptis Pada Penyimpanan Terpapar Cahaya

Pembahasan

Evaluasi stabilitas pada likopen merupakan hal yang penting untuk dilakukan karena senyawa karotenoid ini dapat rusak selama proses pengolahan maupun penyimpanan. Penyebab utama kerusakan senyawa ini adalah reaksi oksidasi enzimatis dan non enzimatis. Isomerisasi trans-karotenoid menjadi isomer cis nya ditunjukkan dengan adanya perubahan warna pada produk akhir, yang terjadi karena kontak dengan suasana asam, pengolahan dengan menggunakan panas dan paparan cahaya.10

Pada penelitian ini, dilakukan pengujian stabilitas likopen dalam bentuk mikrokapsul menggunakan dua jenis penyalut yang berbeda yaitu hidroksi propil β-siklodekstrin (HPBCD) dan kombinasi maltodekstrin(MD)-whey protein(WP) dengan metode enkapsulasi yang sama yaitu spray dry . HPBCD merupakan bahan enkapsulan yang paling sering digunakan untuk meningkatkan stabilitas likopen pada suhu ruang dengan adanya oksigen dan cahaya.10,11 Aplikasi HPBCD dalam mikroenkapsulasi memberikan beberapa keuntungan diantaranya adalah kemampuannya membentuk suatu struktur macrocycles, dengan rongga yang bersifat hidrofobik, sehingga dapat dimasuki oleh senyawa lipofilik. Interaksi antara HPBCD dengan likopen terjadi dengan terbentuknya ikatan hidrofobik antara bagian hidrofobik likopen dengan ruang bagain dalam HPBCD membentuk suatu kompleks inklusi.11

Whey protein merupakan suatu bahan enkapsulan yang baik karena berbobot molekul besar dengan rantai yang fleksibel, bersifat ampifilik dan memiliki kemampuan berinteraksi dengan berbagai senyawa lain. Senyawa protein ini berperan sebagai emulgator dan bahan pembentuk film, sementara karbohidrat dalam hal ini maltodekstrin berberan sebagai pembentuk matriks.12

Metode spray dry merupakan suatu proses dehidrasi dalam enkapsulasi yang cocok bagi senyawa yang sensitif terhadap panas. Proses dehidrasi ini meningkatkan stabilitas mikrobiologi karena menurunnya kandungan air dan aktivitas air pada produk akhir, yang pada akhirnya dapat mencegah degradasi secara kimia maupun biologi.5

Karateristik mikrokapsul yang diperoleh dengan menggunakan kedua penyalut tersebut dapat dilihat pada tabel 1 dan 2. Efisiensi enkapsulasi (EE) menunjukan persentase likopen yang tersalut pada kedua jenis mikrokapsul. Hasil penentuan nilai EE hampir sama pada kedua jenis penyalut yaitu 7,6 % untuk M1 dan 8,2% untuk M2. Efisiensi enkapsulasi menunjukan persentase total likopen terenkapsulasi dibanding jumlah likopen awal. Nilai EE yang didapat pada penelitian ini rendah jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya. Nunes et.al (2013) memperoleh hasil EE 51±1% pada enkapsulasi likopen menggunakan enkapsulan sukrosan dan gum arab. Efisiensi enkapsulasi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain sifat bahan penyalut (viskositas dan solubilitas), perbandingan inti dengan penyalut, dan suhu udara inlet.13 Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini lebih rendah dibanding penelitian sebelumnya kemungkinan disebabkan oleh sifat penyalut yang berbeda dan rasio inti penyalut yang kurang tepat.

Pada penelitian ini dilakukan pengujian kestabilan terhadap cahaya yang merupakan salah satu parameter pengujian stabilitas selain suhu dan kelembapan. Perlakuan dilakukan selama 4 minggu dengan menyimpan sampel pada perlakuan yang berbeda yaitu sampel terpapar oleh cahaya dan sampel tidak terpapar oleh cahaya.

Sampel likopen tidak termikroenkapsulasi digunakan sebagai pembanding. Parameter yang dimonitor pada penelitian ini adalah sifat organoleptis meliputi bentuk, warna dan bau serta perubahan kadar likopen pada setiap sampel dari setiap perlakuan setiap minggu. Hasil pengamatan menunjukan perubahan kadar yang terjadi setiap minggu, berbanding lurus dengan perubahan parameter organoleptis warna dengan setiap perlakuan. Semakin banyak likopen yang terdegrasi oleh cahaya maka intensitas warna dari sediaan menjadi semakin berkurang.

Pada parameter organoleptis lainnya yaitu bau, M2 mengalami perubahan hilangnya bau seiring waktu ada penyimpanan terpapar cahaya hal ini disebabkan adanya kenaikan suhu pada penyimpanan tersebut sehingga ada komponen yang menguap. Hasil dari pengamatan organoleptis setiap minggu pada setiap perlakuan dapat dilihat pada tabel 3 dan 4.

Hasil perhitungan kadar pada perlakuan tidak terpapar cahaya menunjukkan sediaan dalam bentuk mikroenkapsulasi stabil (tidak mengalami penurunan kadar) dibandingkan sediaan pembanding yang mengalami  penurunan  sebesar  40,9  %.

Pada perlakuan terpapar cahaya hasil perhitungan kadar menunjukkan bahwa M2 mengalami penurunan sebesar 43,37%, M1 48,7% sedangkan nilai % penurunan kadar yang paling tinggi terjadi pada pembanding yaitu sebesar 96,75 %. Hal ini sejalan dengan kesimpulan penelitan sebelumnya yaitu likopen dalam bentuk mikrokapsul mengalami  peningkatan  stabilitas  secara signifikan dibanding dalam bentuk bebas.10

Penurunan kadar pada semua formula dengan adanya paparan sinar selama penyimpanan menunjukan bahwa baik penyalut HPBCD maupun kombinasi WP dan MD tidak dapat memberikan perlindungan yang optimum terhadap gangguan sinar. Hasil stabilitas yang kurang baik pada penyimpanan terpapar cahaya juga kemungkinan di pengaruhi oleh suhu penyimpanan.

Beberapa penelitian sebelumnya menunjukan bahwa suhu penyimpanan dapat mempengaruhi stabilitas mikrokapsul likopen. Selmi et.al (2013 ) membuktikan bahwa penyimpanan pada suhu rendah (10oC) dapat meningkatkan stabilitas mikrokapsul likopen selama penyimpanan.10

Matioli and Rodriguez Amaya menemukan bahwa mikrokapsul likopen mengalami penurunan kadar sebanyak 50% jika disimpan pada suhu kamar tanpa adanya cahaya.10 Shu et al melakukan uji stabilitas terhadap mikrokapsul likopen yang dibuat dengan metode spray dry dengan penyalut gelatin sukrosa penyimpanan pada suhu 0oC selama 28 hari menyebabkan penurunan kadar likopen sebanyak 15%.10

Sehingga untuk meningkatkan stabilitas mikrokapsul yang diperoleh dari penelitian ini seharusnya dilakukan optimasi juga pada suhu penyimpanan.

Simpulan

  1. Mikrokapsul likopen dengan penyalut HPBCD maupun kombinasi WP dan MD memiliki stabilitas yang lebih baik dibandingkan dalam bentuk bebasnya.
  1. Penyalut HPBCD maupun kombinasi WP dan MD tidak dapat memberikan perlindunganyangoptimumbagilikopen dalam bentuk mikrokapsul terhadap gangguan sinar selama penyimpanan.

Daftar Pustaka

  1. Nunes L.I, Adriana Z.M. Encapsulation of lycopene using spray drying and molecular inclusion processes. Brazilian Arch. Bio. Tech. 2007; 50(5) :893-900
  1. Madhava RA, David B, Otilia JF Banji, Kumar K, Mandava R. Lycopene and it’s importance in treating various disease in humans.IRJP.2011; 2(8): 31-37
  2. Chaouhan K, Sheel S, Nidhi A, Bhushan C. Lycopene of tomato fame: Its role in health and disease. Int.J.Pharmaceu. Scie. Rev. Res. 2011; 10(1): 99-115
  1. Urbonaviciene D, Pranas V, Jonas V, Ceslovas B. Stability of tomato lycopene under thermal and light irradiation treatments in an oil-based model system. Zemdirbyste Agric. 2015; 102(2): 185-192
  1. Kandasamy K,   Priyenka  Microencapsulation of colors by spray drying-A Review. International Journal of Food Engineering. 2012; 8(2): 1-10
  1. Hadiansyah C, Amila, Fitrianti D.Formulasi mikrokapsul konsentrat likopen dari buah tomat (lycopersicum esculuntum mill) menggunakan penyalut beta siklodekstrin dengan metode spray dry. Prosiding Farmasi Seminar Penelitian Sivitas Akademika Unisba; 15-16 Agustus 2016; Bandung, Indonesia. Indonesia: Universitas Islam Bandung; 2016
  1. Fazriah Y, Amila, Indra TM. Formulasi mikrokapsul konsentrat likopen dari buah tomat (Lycopersicon esculuntum miller) menggunakan bahan penyalut whey dan karbohidrat dengan metode spray dry. Prosiding Farmasi Seminar Penelitian Sivitas Akademika Unisba;15-16 Agustus 2016; Bandung, Indonesia. Indonesia: Universitas Islam Bandung; 2016
  1. Edityaningrum AC, Heni Peningkatan stabilitas kurkumin melalui pembentukan kompleks kurkumin- – siklodekstrin nanopartikel dalam bentuk gel.Pharmaciana.2015; 5(1): 53-59
  1. Gardjito M, Agnes M, Nur A. Mikroenkapsulasi -Karoten Buah Labu Kuning dengan Enkapsulan Whey dan Karbohidrat. Jurnal Teknologi Pertanian.2006; 2(1): 13-18
  1. Selmi Glaucia AR, Carmen SF Trindade, Carlos GF Grosso. Morphology, stability, and application of lycopene microcapsules produced by complex coaceration. J. Chem. 2013; 982603: 1-7
  1. Blanch GP, Maria Lusia RC, Maria MC,  Mercedes  PM,  Santiago  SC. Stabilization of all-trans-lycopene from tomato by encapsulation using cyclodextrins. Food Chem. 2007; 105: 1335-1341
  1. Carmona Paula AO, Renata VT, Miriam DH. Influence of emulsion on the microencapsulation of orange esential oil by spray drying. [Diunduh 28 Agustus 2016]tersedia dari http://www. icef11.org/content/papers/epf/EPF156. pdf
  1. Bansode P, Carolina F. The encapsulation of anthocyanins from berry-type fruits. Trend in foods. Molecules.2015; 20: 5875-5888