Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etilasetat Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) terhadap Bakteri Staphylococcus epidermidis

242

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 3, No. 2, 72-77 (2016).

Sukriani Kursia1, Julianri S. Lebang1, Burhanuddin Taebe1, Asril Burhan2, Wa O. R. Rahim1, Nursamsiar1

Show more

1Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
2Akademi Farmasi Kebangsaan Makassar, Makassar, Sulawesi Selatan, Indonesia
Korespondensi : sukriani.winie@yahoo.com (Sukriani Kursia)

[collapse]

Download citation | PDF (240 kb)

Abstrak/Abstract

Kata Kunci: Daun sirih hijau, etil asetat, Piper betle L, difusi agar, Staphylococcus epidermidis

Pendahuluan

Penderita jerawat umumnya diderita oleh sekitar 75-80 % orang dewasa yang sering menyebabkan rasa kurang nyaman dari penderitanya. Masalah yang timbul selain berhubungan dengan estetika juga psikologi,yaitudapatmengakibatkandepresi dan kegelisahan. Prevalensi penderita tergantung pada umur dan jenis kelamin8. Pemeliharaan kesehatan oleh masyarakat di negara-negara berkembang menurut World Health Organization (WHO) 80% menggunakan tanaman yang mengandung senyawa berkhasiat obat berdasarkan pengalaman masa lalu1. Indonesia adalah salah satu Negara berkembang dengan iklim tropis dan memiliki keragaman yang cukup besar sehingga memiliki sumber bahan baku obat khususnya obat tradisional yang telah dimanfaatkan oleh masyarakat secara turun temurun6.

Sheikh et al., (2012) menyatakan bahwa penggunaan ekstrak tumbuhan yang memiliki aktivitas antimikroba sangat membantu dalam penyembuhan. Salah satu tanaman yang memiliki kemampuan sebagai antibakteri adalah Sirih hijau (Piper betle L.)10. Daun sirih hijau digunakan sebagai obat batuk, obat cacing, dan antiseptik luka16. Daun sirih hijau mengandung berbagai macam kandungan kimia, antara lain minyak atsiri, terpenoid, tanin, polifenol serta steroid.5, 3, 19

Senyawa-senyawa yang terkandung dalam tumbuhan sirih hijau tidak seluruhnya merupakan senyawa polar, namun juga terdapat senyawa non polar ataupun semi polar dan bersifat lipofil, sebagaimana yang terkandung pada tanaman tingkat tinggi pada umumnya. Pelarut etanol, etilasetat dan n-heksan merupakan pelarut organik yang banyak digunakan dalam proses ekstraksi, yang dapat melarutkan senyawa flavonoid, saponin, aglikon flavonoid, steroid dan lain-lain,15, 13, 8, 14, 1

Hasil penelitian oleh Suliantari (2008) menunjukkan hasil ekstrak etanol daun sirih hijau dapat menghambat bakteri S.aureus dengan kategori sedang, penelitian lain oleh Anang Hermawan (2007), bahwa ekstrak daun sirih hijau dengan pelarut DMSO (Dimethyl Sulfoxide) dapat menghambat aktivitas bakteri S.aureus dengan kategori kuat. Selain itu juga memiliki aktivitas sebagai antibakteri terhadap P. acnes dan S.aureus18

Jerawat adalah penyakit yang banyak diderita masyarakat terutama remaja. Penyakit ini dapat disebabkan oleh bakteri yaitu P.acnes dan bakteri S.epidermidis. Bakteri ini merupakan flora normal di kulit, namun dapat bersifat invasif. Penyebab lain adanya zat nutrisi bagi bakteri yang diproduksi dari sekresi kelenjar sebasea yakni air, asam amino, urea, garam dan asam lemak. Bakteri ini berperan pada proses kemotaktik inflamasi serta pembentukan enzim lipolitik pengubah fraksi sebum menjadi massa padat, yang menyebabkan terjadinya penyumbatan pada saluran kelenjar sebasea.9, 12

Jerawat yang disebabkan oleh beberapa bakteri seperti P.acnes, S.aureus dan S.epidermidis menimbulkan efek yang berbeda-beda. P.acnes menghasilkan lipase yang memecah asam lemak bebas dari lipid kulit yang akan menyebabkan terjadinya inflamasi jaringan sehingga mendukung terbentuknya acne. S.aureus menyebabkan infeksi termasuk jerawat yang menghasilkan nanah. Sedangkan apabila S.epidermidis berkembang pada kelenjar sebaceous dan tersumbat, akan menghasilkan zat-zat yang akan menyebabkan iritasi pada daerah sekitarnya selanjutnya akan membengkak, pecah dan kemudian menyebarkan radang ke jaringan kulit.

Berdasarkan penelitian-penelitian yang ada mengenai pengujian terhadap bakteri P.acnes dan S.aureus yang berperan4, 11 yang dilakukan menggunakan Daun Sirih, sampai saat ini belum ditemukan pengujian terhadap bakteri S.epidermidis sehingga penelitian ini dilakukan untuk melihat aktivitas antibakteri ekstrak etilasetat dari daun sirih hijau terhadap bakteri S. epidermidis. 

Metode

Alat dan Bahan

Alat-alat yang digunakan yaitu autoklaf, bejana maserasi, cawan petri (normax), Erlenmeyer (Pyrex), gelas kimia (Pyrex), inkubator (memmert), jangka sorong, jarum ose, Laminar Air Flow (LAF), lampu bunsen, mikro pipet, tabung reaksi (Pyrex), oven, pinset, swab, timbangan analitik, waterbath.

Bahan-bahan yang digunakan adalah aquadest steril, bakteri uji S. epidermidis, daun sirih hijau, etil asetat, etanol 70%, FeCl3, larutan besi (III) klorida 1%, HCl, H2SO4, larutan HgCl2 dan KI, larutan Bi(NO3)3.H2O, HNO3, dan KI, larutan asam asetat anhidrat dan kloroform, media Nutrient Agar (NA), NaCl 0,9%, paper disc tetrasiklin 30 µg, paper disc blank, serbuk mg.

Pengambilan Sampel
Sampel penelitian adalah daun sirih hijau yang diperoleh dari Pasar Terong kota Makassar Sulawesi Selatan yang selanjutnya dilakukan determinasi di Laboratorium Biologi Farmasi Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Makassar.

Pembuatan Simplisia
Daun sirih hijau disortasi basah lalu dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran yang menempel, lalu ditiriskan, selanjutnya dirajang atau dipotong kecil-kecil. Kemudian dikeringkan pada suhu 50-60°C di lemari pengering selama 3-5 hari selanjutnya sortasi kering.

Ekstraksi
Simplisia ditimbang sebanyak 300 gram, kemudian dimasukkan kedalam wadah maserasi, lalu di basahkan dengan sedikit etil asetat dan selanjutnya direndam hingga 2,25 L, diaduk kemudian ditutup rapat. Didiamkan selama 3 x 24 jam terlindung dari cahaya dengan perlakuan tiap hari diaduk sebanyak tiga kali sehari. Setelah hari ke 3 sampel disaring dan dipisahkan ampas dan filtratnya. Selanjutnya, ampas diremaserasi dengan cairan penyari etil asetat yang baru dengan jumlah yang sama. Filtrat yang telah diperoleh, dikumpulkan, dipekatkan dengan alat rotavapor sampai diperoleh ekstrak kental.

Skrining Fitokimia7

Uji Saponin
Ekstrak etilasetat sebanyak 0,1 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 10 mL air hangat atau panas lalu dikocok selama 30 menit. Dilihat busanya dan diukur berapa cm busa yang terbentuk. Dibiarkan selama 5 menit dan jika busanya tidak hilang ditambahkan HCl 2 N. Apabila masih terdapat busa yang konstan maka menunjukan hasil yang positif.

Uji Flavonoid
Ekstrak etil asetat sebanyak 0,1 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan serbuk Magnesium sebanyak 0,5 mg lalu ditambahkan HCl pekat 3 tetes. Warna kuning, hijau, hitam dan orange, menunjukan positif flavonoid.

Uji Alkaloid
Ekstrak etil asetat sebanyak 0,1 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan dengan 2 mL kloroform dan 2 mL ammonia, dikocok kemudian ditambahkan HCl 2N. Larutan yg diperoleh dibagi menjadi 3 bagian dalam tabung reaksi dimana masing-masing tabung reaksi ditambahkan pereaksi Dragendorf, pereaksi Mayer dan pereaksi Wagner. Untuk pereaksi Dragendorf endapan merah/jingga menunjukan positif senyawa alkaloid, pada pereaksi Mayer endapan putih menunjukkan positif senyawa alkaloid dan pada pereaksi Wagner endapan coklat menunjukan hasil yang positif.

Uji Tanin
Ekstrak etil asetat sebanyak 0,1 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, ditambah 3 tetes FeCl3. Warna biru menunjukkankeberadaantaninhidrolyzable. Atau menggunakan penambahan larutan KOH 10 mL dalam 0,5 g ekstrak.

Uji Flavanoid
Ekstrak etil asetat sebanyak 0,1 g dimasukkan ke dalam tabung, kemudian ditambahkan dengan aseton. Selanjutnya resude diekstraksi menggunakan air panas setelah aseton diuapkan. Filtrat kemudian didinginkan. 5 mL NaOH 20% di tambahkan dalam ekstrak. Warna kuning menunjukkan golongan flavanoid Senyawa kelompok fenol ditandai dengan munculnya warna hijau, merah, ungu atau hitam.

Uji Steroid
Ekstrak etil asetat sebanyak 0,1 g dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan dengan 2 mL H2SO4 pekat. Adanya steroid ditandai dengan perubahan warna dari ungu menjadi biru atau hijau.

Sterilisasi Alat
Sterilisasi alat dilakukan dengan metode panas kering dan panas lembab sedangkan sterilisasi medium dilakukan dengan panas lembab. Sisa pengujian sebelum dibuang dilakukan proses inaktif terhadap mikroorganisme menggunakan metode panas lembab yang selanjutnya dibuang pada tempat pengolahan limbah.

Peremajaan Kultur Murni Bakteri Uji
Satu koloni biakan murni bakteri S.epidermidis diambil dengan menggunakan ose steril dari kultur murninya, dan selanjutnya diinokulasikan dalam medium Nutrien Agar (NA) miring, kemudian diinkubasikan dalam inkubator pada suhu 37°C selama 1×24 jam.

Pembuatan Suspensi Larutan Uji
Hasil peremajaan bakteri S.epidermidis disuspensikan dengan larutan garam fisiologis (NaCl 0,9%), yang setara dengan Mc. Farland 0,5 (108 koloni/mL).

Penyiapan Sampel Uji
Ditimbang masing-masing ekstrak daun sirih hijau sebanyak 0,1 g; 0,3 g; dan 0,5 g. Lalu dilarutkan dengan DMSO sedikit hingga larut dan selanjutnya dicukupkan hingga 10mL untuk memperoleh konsentrasi 1%, 3% dan 5%.

Pengujian Sampel Terhadap Bakteri Uji

Sebanyak 15 mL medium Nutrien Agar (NA) dimasukkan ke dalam cawan petri lalu dibiarkan memadat. Setelah memadat, diambil 1 ose bakteri yang telah diukur berdasarkan standar Mc.Farland 108 kol/ mL, kemudian digores secara merata pada permukaan medium, kemudian dimasukkan masing-masing  paper  disc  yang  telah diteteskan ekstrak etil asetat sebanyak 20 µL secara aseptis menggunakan pinset steril dan sebagai kontrol positif (+) digunakan paper dics tetrasiklin dan sebagai kontrol negatif  (-)  digunakan  cairan  penyari yang digunakan. Paper disc yang telah mengandung ekstrak dimasukkan ke dalam permukaan medium dengan jarak paper disc satu dengan yang lainnya 2-3 cm dipinggir cawan petri. Kemudian paper disc tersebut diinkubasi pada suhu 37°C selama 1×24  jam.  Selanjutnya  diameter  bening yang terbentuk diamati dan diukur diameter daerah hambatnya dengan jangka sorong. Perlakuan ini kemudian diulang sebanyak tiga kali.

Hasil dan Pembahasan

Proses ekstraksi ekstrak etil asetat daun sirih hijau menghasilkan rendamen sebesar 3,1% dari 300 g simpilisa yang di ekstraksi dan hasil identifikasi kimia menujukkan bahwa ekstrak positif mengandung tannin dan fenolik sedangkan alkaloid steroid, saponin dan flavanoid menunjukkan hasil negatif. Hal ini disebabkan karena senyawa tersebut lebih arut dalam pelarut etil asetat yang bersifat pola. Menurut Harapini et al., (1996), senyawa dalam ekstrak yang diduga berperan sebagai senyawa antimikroba adalah senyawa fenolik. Tannin merupakan  poliflavanoid yang biasanya digunakan sebagai bahan penyegar, mempunyai sifat antimikroba terhadap khamir, bakteri dan kapang. Kemampuan tannin sebagai bahan antimikroba diduga karena tannin akan berikatan dengan dinding sel bakteri, sehingga akan menginaktifkan kemampuan menempel bakteri, menghambat pertumbuhan, aktivitas enzim protease dan dapat membentuk ikatan komplek dengan polisakarida16

Pengujian aktivitas antibakteri ekstrak etilasetat konsentrasi 1%, 3% dan 5% terhadap S.epidermidis menggunakan metode difusi menunjukkan hasil rata-rata diameter hambat 0 mm; 9,8 mm; dan 15

 

  1. Sedangkan untuk kontrol negatif 0 mm dan kontrol positif 27 mm dalam pelarut etilasetat.

 

Hasil diameter hambat ektrak tersebut berdasarkan Davis and Stout, 1971 termasuk kategori sedang-kuat sedangkan kontrol positif kategori sangat kuat. Peningkatan konsentrasi tidak dilakukan karena konsentrasi tersebut cukup besar dan daya hambatnya sudah masuk kategori kuat.

Simpulan

Ekstrak etilasetat dapat menghambat bakteri S.epidermidis pada konsentrasi 3% dan 5% memiliki daya hambat sebesar 9,8 mm dan 15 mm (kategori sedang dan kuat).

Daftar Pustaka

  1. Angelina, F. S., Agus Sabdono., dan Delianis, P. 2012, Potensi Antibakteri ekstrakRumput Laut Terhadap Bakteri Penyakit Kulit. Fakultas Perikanan dan Ilmu kelautan Universitas Diponegoro : Semarang.
  2. Cowan M.M. 1999, Plant Product as Antimicrobial Agents. J, Microbiology Reviews. 12(4) : 564-582.
  3. Damayanti, R.M. 2005, Khasiat dan Manfaat Daun Sirih Hijau : Obat Mujarab dari Masa ke Masa. Agro Media Pustaka : Jakarta.
  4. Datta A, Ghoshdastidar S, Singh M., 2011, Antimicrobial Property of Piper betel Leaf againts Clinical Isolates of Bacteria, International Journal of Pharma Sciences and Research V0l.2(3) hal.104-109.
  5. Depkes R.I. 1980, Materia Medika Indonesia, Jilid IV. Jakarta.
  6. Depkes R.I. 2000, Pedoman Pelaksanaan Uji Klinik Obat Tradisional. Direktorat Jendral Pengawas Obat dan Makanan. Departemen Kesehatan Republik .Indonesia : Jakarta.
  7. Depkes, 1979, Materi Medika Jilid III, Jakarta.
  8. Djuanda, A., Hamzah, M., dan Aisah, S. 1999, Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Balai Penerbit FKUI : Jakarta
  9. Harborne, J.B. 1996, Metode Fitokimia : Penuntun Cara Modern Menganalisa Tumbuhan. Penerbit ITB : Bandung
  10. Hoque, M.M., S. Ratttila, M.A., Shishir, M.L., Bari, Y. Inatsu, dan S. Kawamoto. 2011, Antibacterial Activity of Ethanol Extract of Betel Leaf (Piper betle L.). Againts Some Food Borne Pathogens.
  11. Putri, Z.F. 2010, Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Sirih Hijau (Piper betle L.) Terhadap Propionibacterium acne dan Staphylococcus aureus Multiresisten. (Skripsi). Universitas Muhammadiyah Surakarta : Surakarta.
  12. Srisadono, A. 2008, Skrinning Awal Ekstrak Etanol Daun sirih hijau (Piper betle Linn) Sebagai Antikanker dengan Metode Brine Shrimp Lethality Test (BSLT). (Artikel Karya Tulis Ilmiah). Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro:Semarang
  13. Sheikh, M., Abdullah R.M., M.K., Meghavanshi and Irshad, M. 2012, Studies on Some Plant Extract for Their Antimicrobial Potential Against Certain Pathogenic Microorganisms. American Journal of Plant Sciences. 3. 209-213.
  14. Widowati, Esti.W. 2009, Antifungal Activity of Piper betle L. (Sirih) Leaves. Makalah pada Prosiding The First International Seminar on Science and Technology : Yogyakarta