Analisis Kadar Kalsium Saliva dan Hubungannya dengan Pembentukan Karang Gigi

161

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 3, No. 1, 31-37 (2016). http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v2i3.7914
Faisal Kuswandani

Show more

Instalasi Farmasi Rumah Sakit Gigi dan Mulut (RSGM), Bandung, Jawa Barat, Indonesia
Korespondensi : idrg.faisalkusmandani@gmail.com (Faisal Kuswandani)

[collapse]

Download citation | PDF (231 kb)

Abstrak/Abstract

Kata Kunci: Kalsium, karang gigi, saliva, spektroskopi serapan atom nyala

Pendahuluan

Saliva adalah cairan yang disekresikan secara langsung ke dalam rongga mulut oleh kelenjar saliva.1 Saliva mengandung ion kalsium, kombinasi dengan fosfor akan membentuk kalsium fosfat, berupa materi yang padat.2 Kalsium fosfat yang lewat jenuh di dalam saliva akan menyebabkan senyawa ini mengendap pada email, mula-mula kalsium fosfat berupa endapan halus dan melekat pada permukaan gigi sebagai lapisan lembut, dan lama-lama material ini akan mengeras dan semakin sulit untuk dihilangkan.3 Penyusun dari email gigi sebanyak 95% adalah mineral kalsium hidroksiapatit.4 Permukaan gigi di dalam keadaan fisiologis memiliki muatan yang negatif. Oleh karena itu, ion-ion bermuatan positif, seperti ion kalsium (Ca2+) serta biopolimer saliva (terutama protein) dapat diabsorpsi oleh tubuh. Tetapi biopolimer bermuatan negatif hanya dapat diabsorpsi melalui ion divalent bermuatan positif.5,6

Walaupun gigi memiliki sistem self-cleansing dari aktivitas rongga mulut, gigi tetap dapat dilapisi endapan kalsium fosfat, meski hanya berupa lapisan tipis.7 Karang gigi dapat men pada beberapa penyakit8, seperti penyakit jantung9, menopaus10, dan penyakit oral lainnya.11

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka masalah yang dapat diidentifikasikan pada penelitian ini antara lain, berapakah kadar kalsium pada saliva, apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara kadar kalsium saliva pada kelompok studi dan kelompok pembanding, serta berapakah rata-rata kadar kalsium dari saliva pada kelompok studi dan juga pada kelompok pembanding.

Metode

Alat-alat yang digunakan di dalam penelitian ini adalah sonde, kaca mulut, cawan platina, neraca analitik, alat-alat gelas kimia, sonicator, vial ukuran 30 mL, kertas saring whatman, mikropipet, serta Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) (Flame, Perkin Elmer AAnalyst 100).

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah disclosing solution, saliva penderita karang gigi (kelompok studi), saliva bukan penderita karang gigi (kelompok pembanding), asam nitrat 1 N (Brataco), larutan lantanum (III) klorida 50.000 ppm (Brataco), asam klorida 5 N (Brataco), kalsium karbonat (CaCO3) pro analisis (Brataco), dan aquabidestilata.

Saliva didapatkan dari responden yang memiliki kriteria umur antara 19−24 tahun serta diambil sekitar pukul 08.00 WIB, setelah berpuasa sejak pukul 24.00 WIB, satu hari sebelumnya. Teknik ini sebagai pendekatan dari teknik pengambilan saliva istirahat. Sampel dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu sampel penderita karang gigi sebagai kelompok studi serta sampel berasal dari bukan penderita karang gigi sebagai kelompok studi.

Kriteria karang gigi ditentukan dengan metode kalkulus indeks, dengan kriteria kelompok studi adalah sedang dan buruk yaitu memiliki kalkulus indeks >0,7 serta kelompok pembanding memiliki kriteria sehat yaitu memiliki kalkulus indeks ≤0,6.

Pembuatan larutan baku CaCO3 dengan cara sebanyak 1,25 g kalsium karbonat pro analisis ditimbang dan dimasukkan dalam beaker glass berukuran 600 mL, kemudian ditambahkan larutan HCl 5 N. Selanjutnya larutan ditambahkan air hingga 1 L pada labu ukur. Larutan baku kalsium karbonat diencerkan menjadi 4 konsentrasi, yaitu 6 ppm, 8 ppm, 12 ppm, dan 16 ppm.

Persiapan dan analisis sampel dilakukan dengan cara sebanyak 1 mL sampel dipipet ke dalam labu ukur 10 mL, kemudian dilarutkan dengan larutan LaCl3 sampai tanda batas. Sampel dihomogenkan lalu disaring ke dalam vial 30 mL dengan kertas saring. Kandungan kalsium di dalam saliva dihitung dengan persamaan:

Sebelum SSA digunakan, dilakukan pengondisian alat terlebih dahulu.

Hasil

Gambar 1 Grafik  Rentang Konsentrasi Saliva

Dalam pengondisian alat standar yang digunakan untuk analisis kalsium dengan panjang gelombang 422,7 nm, lebar celah 6,7 nm, nyala yang digunakan adalah asetilen-udara, tinggi nyala 10 cm, dan lampu katoda yang digunakan yaitu kalsium.

Pada penelitian ini konsentrasi kalsium pada saliva berada pada rentang 56,84 ppm sampai 121,91 ppm, hasil tersebut dapat dilihat pada Gambar 1. Penelitian lain menyebutkan bahwa rentang konsentrasi dari kalsium saliva di dalam setiap litelatur berbeda-beda.6

Konsentrasi yang berbeda-beda ini bisa terjadi karena beberapa faktor, yaitu: Ras subjek penelitian, metode pengambilan sampel, metode analisis sampel. Selain itu sisebutkan bahwa susunan saliva selalu berubah-ubah, mengingat besarnya jumlah perubahan, tidak mungkin untuk memberikan susunan saliva yang tepat 12.

Konsentrasi dianggap sebagai sumbu x dan serapan sebagai sumbu y diperoleh suatu kurva baku sebagai acuan untuk menetapkan konsentasi kalsium dalam sampel. Berdasarkan perhitungan diperoleh persamaan garis lurus y=0,0209x–0,0158 dengan linearitas r=0,998.

Pemeriksaan sampel dari kelompok studi diperoleh nilai absorbansi dan kandungan kalsium seperti yang terlihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Hasil Analisis Kalsium Sampel dari Kelompok Studi

Hasil analisis sampel dari kelompok pembanding dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Hasil Analisis Kalsium dari Sampel Kelompok Pembanding

Validasi analisis yang diukur adalah akurasi atau kecermatan, presisi atau keterulangan, linieritas, batas deteksi atau Limit of Detection (LOD), serta batas kuantisasi atau Limit of Quantification (LOQ).

Tabel 3 Akurasi Analisis Kalsium

Tabel 4 Presisi Analisis Kalsium

Dari hasil perhitungan pada Tabel 3, didapatkan perolehan kembali rata-rata sebesar 87,95%, dengan simpangan baku 1,039 dan koefisien variasi 1,18%. Hal ini berarti bahwa metode yang digunakan telah memenuhi kriteria cermat.

Pengukuran presisi dilakukan untuk mengetahui derajat kesesuaian antara keterulangan pengukuran absorban pada sampel yang diambil dari campuran yang homogen. Hasil pengukuran nilai presisi analisis kalsium dapat dilihat pada Tabel 4. Dari hasil perhitungan diperoleh koefisien variasi sebesar 1,199%, hal ini berarti bahwa metode yang digunakan telah memenuhi kriteria seksama.

Linearitas dari kurva baku dari lima konsentrasi diperoleh r2 0,998 yang artinya terdapat korelasi antara onsentrasi dengan absorban dengan kepercayaan 99%. Dari data kurva kalibrasi dapat diperoleh simpangan baku residual (Sy/x) sebesar 0,00527.

Batas kuantisasi diperoleh melalui persamaan:

Pembahasan

Hasil validasi analisis kalsium dalam saliva dengan metode spektroskopi serapan atom nyala, menunjukan metode yang tepat dan dapat dipercaya.

Dari hasil analisis diketahui bahwa konsentrasi rata-rata sampel dari kelompok studi adalah 95,34 ppm dan kelompok pembanding adalah 78,13 ppm. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan konsentrasi kalsium sekitar 17,21 ppm antara kelompok studi dan kelompok pembanding. Kelompok studi memiliki konsentrasi kalsium lebih tinggi dari kelompok pembanding. Hal ini membuktikan bahwa konsentrasi kalsium dalam saliva berperan dalam pembentukan karang gigi. Semakin tinggi konsentrasi saliva akan semakin tinggi konsentrasi kalsium dan saliva akan semakin mudah karang gigi terbentuk. Pada penelitian sebelumnya menyatakan pasien penderita periodontitis yang memiliki kandungan kalsium tinggi dalam salivanya memiliki katrang gigi yang tinggi.6,13

Tabel 5 Absorbansi Larutan Baku Kalsium

Gambar 2 Grafik Kurva Kalibrasi

Dari hasil analisis dapat terlihat bahwa beberapa kelompok studi memiliki kadar kalsium yang kecil dengan konsentrasi jauh di bawah konsentasi rata-rata padahal memiliki kalkulus indeks di atas 0,6. Hal ini bisa disebabkan responden tidak membersihkan giginya dengan baik sehingga pelikel-pelikel yang terbentuk tidak hilang, pelikel ini akan bertambah tebal dan akhirnya menjadi karang gigi.14

Pada tabel kelompok pembanding terdapat beberapa sampel yang memiliki konsentrasi diatas rata-rata padahal kalkulus indeksnya dibawah 0,6. Hal ini bisa disebabkan karena responden merawat giginya dengan baik sehingga tidak ada pelikel yang melekat. Selain itu hal ini bisa dipengaruhi oleh kalsium dari sisa-sisa makanan atau bakteri mulut yang turut menyumbangkan kalsium sehingga kadar kalsiumnya berada diatas rata-rata.15

Penelitian lainnya menunjukkan bahwa aktivitas enzim alkaline phosphatase akan menyebabkan kandungan kalsium dalam saliva menjadi tinggi.4 Pengaruh keasaman atau pH juga menajdi faktor yang menentukan dalam pembentukan karang gigi.16,17

Dari data kelompok pembanding terdapat beberapa data yang tidak sesuai. Hal ini berarti bahwa selain kalsium ada faktor lain yang memengaruhi pembentukan karang gigi. Faktor lain yang memengaruhi pembentukan karang gigi adalah pH dan kebersihan mulut. pH yang asam dapat merangsang mulut untuk mensekresikan saliva lebih banyak sehingga terjadi kalsium yang lewat jenuh di dalam saliva akibatnya mempercepat pembentukan karang gigi. Gigi yang tidak dibersihkan dengan baik tidak akan menghilangkan pelikel yang melekat pada email, pelikel ini semakin lama semakin tebal dan mengeras membentuk karang gigi. Penelitian terbaru menyebutkan bahwa karang gigi perokok lebih banyak dibandingkan bukan perokok yang disebabkan kandungan kalsium pada saliva menjadi meningkat.1,13

Simpulan

Dari hasil penelitian diketahui bahwa konsentrasi kalsium pada saliva berada pada rentang 56,84 ppm sampai 121,91 ppm. Kelompok studi memiliki konsentrasi kalsium rata-rata 95,34 ppm, nilai ini lebih tinggi dari kelompok pembanding yang memiliki konsentrasi kalsium rata-rata 78,13 ppm. Hal ini berarti bahwa kalsium memiliki peranan yang penting di dalam pembentukan karang gigi. Semakin tinggi konsentrasi kalsium pada saliva maka akan semakin mudah seseorang menderita karang gigi.

Daftar Pustaka

  1. Rahmania, Yunianta, Erryana Pengaruh metode penggaraman basah terhadap karakteristik produk ikan gabus (Ophiocephalus striatus). Jurnal Teknologi Pertanian. 2007;8(3): 142-152.
  2. Setyaningrum A, Sukesi. Penentuan Ca, Na, dan K dalam nugget ayam- rumput laut (Eucheuma cottonii). Jurnal Sains dan Seni Pomits. 2013;2 (1):2337-3520.
  3. Miefthawati NP, Gusrina L, Axela F. Penetapan kadar kalsium pada ikan kembung segar dan ikan kembung asin secara kompleksometri. Jurnal Analisis Kesehatan Klinikal Sains. 2013;1(1): 1-9.
  4. Ghufran H, Kordik K. Akuakultur di perkotaan. Cetakan I. Jakarta: Nuansa Aulia; 2012.
  5. Petunjuk pelaksanaan validasi metode dan cara perhitungannya. Majalah Ilmu Kefarmasian. 2004;(1)3: 117-135.
  6. Kristianingrum S. Kajian berbagi proses destruksi  sampel  dan efeknya (makalah-semnas). Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta; 2005; 1-11.
  7. Nurnadia AA, Azrina A, Amin I, Mohd Yunus AS, Mohd Izuan EH. Mineral contents of selected marine fish and shellfish from the west coast of peninsular Malaysia. International Food Research Journal. 2013;20(1): 431-437.
  8. Purwaningsih S. Kandungan mineral tanaman kangkung air (Ipomea aquatic Farsk) (skripsi). Bogor: Institut Pertanian Bogor; 2012;14-15.
  9. Saparinto C, Hidayati D. Bahan tambahan pangan. Yogyakarta: Kanasius; 2006.
  10. Suhartono, Haruna, Pailin JB. Identifikasi dan prediksi daerah penangkapan ikan kembung (Rastrelliger spp) di perairan kabupaten pangkep. Jurnal Amanisal PSP FPIK Unpatti-Ambon. 2013;2(2): 55-65.
  11. Susanto E, Agustini TW, Swastawati F, Surti T, Fahmi AS, Albar MF dan Nafis MK. Pemanfaatan bahan alami untuk memperpanjang umur simpan ikan kembung (Rastrelliger negluctus). Jurnal perikanan (J.Fis.Sci). 2011;2: 60-69.