Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Antibakteri Kompleks Fe (III) dengan Derivat Schiff Base

1085

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 2, No. 2, 49-54 (2015). http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v2i2.7810
Lasmaryna Sirumapea1 , Asmiyanti1, Anis Khoirunisa2

Show more

1Sekolah Tinggi Ilmu Farmasi Bhakti Pertiwi, Jawa Barat, Indonesia
2Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran, Sumedang, Jawa Barat, Indonesia

Korespondensi: lasmaryna2906@gmail.com Lasmaryna Sirumapea

[collapse]

Download citation | PDF (593 kb)

Abstrak/Abstract

Kata Kunci: Antibakteri, ortohidroksi benzaldehid, Schiff base, senyawa kompleks, 4,4 diaminodifenil eter

 

Pendahuluan

Senyawa azomethine (-CH=N-) atau lebih dikenal dengan senyawa Schiff base. Senyawa Schiff base biasanya dibentuk oleh kondensasi dari amin primer dengan senyawa karbonil, seperti pada Gambar 1, yaitu reaksi pembentukan Schiff base.1

Banyak senyawa kompleks yang telah disintesis dan menghasilkan suatu senyawa antara sebagai katalis. Salah satu senyawa yang dapat digunakan di dalam sintesis kompleks adalah ligan yang berasal dari senyawa Schiff base, senyawa kompleks yang terbentuk tersebut merupakan salah satu senyawa antara yang dapat digunakan di beberapa macam penerapan ilmu, seperti dalam ilmu biologi, klinik, dan analitik.2

Berdasarkan penelitian yang terdahulu dapat diketahui bahwa senyawa Schiff base mempunyai sifat sebagai antimikroba.3

Beberapa penelitian sebelumnya telah berhasil melalukan sintesis Schiff base lalu mereaksikannya dengan berbagai macam ion logam sehingga dihasilkan senyawa kompleks. Telah diketahui bahwa berbagai ion logam jika diinteraksikan dengan Schiff base akan menghasilkan khelat. Beberapa peneliti telah melakukan penelitian seperti kompleks schiff base yang berasal dari 2-thiophenecarboxaldehyde dan mono atau diamina, direaksikan dengan logam lalu menghasilkan senyawa khelat di mana efek antibakterinya lebih tinggi dibandingkan efek dari Schiff base tanpa logam atau nonkhelat.4

Karakterisasi dari senyawa Schiff base dilakukan dengan FT-IR. Terbentuknya gugus azometin dapat terdeteksi dengan adanya puncak pada panjang gelombang. Menurut Asiri dan Khan, pada bilangan gelombang di rentang 1,560–1,670 cm-1 adalah bilangan gelombang gugus fungsi azometin (Shiff base (C=N)).5

Uji penghambatan pertumbuhan dari mikroba dapat dilakukan dengan metode difusi agar, penghambatan pertumbuhan mikroba yang ditandai dengan adanya zona bening. Kloramfenikol digunakan sebagai kontrol untuk penghambatan pertumbuhan mikroba.

Gambar 1 Reaksi Pembentukan Senyawa Schiff Base1

Metode

Alat yang digunakan dalam penelitian ini, diantaranya seperangkat alat refluks, hotplate, corong, pipet tetes, vial, lampu spirtus, autoklaf, kertas saring, aluminium foil, batang pengaduk, gelas ukur, lampu spirtus, jangka sorong, timbangan analitik, gelas kimia, kertas cakram, tabung reaksi, erlenmeyer, jarum ose, inkubator, spatel, lemari laminar air flow, spektrofotometer PG UV-Vis tipe T60, spektrofotometer FT IR.

Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini, yaitu 4,4-diaminodifenileter, ortohidroksi benzaldehid, DMF, etanol p.a 96%, akuades, feri klorida, natrium klorida fisiologis (NaCl 0,9%), Nutrient Agar, kloramfenikol, dan bakteri Staphylococcus aureus (ATCC 25923).

Gugus fungsi Schiff base sebagai ligan dibuat dengan konsentrasi 20 mmol (2,1 mL) senyawa ortohidroksi benzaldehid dalam 25 mL etanol p.a 96% dan 10 mmol (2 g) dari senyawa 4,4 diaminodifenileter dalam 15 mL DMF dan direfluks selama 2 jam.

Kemudian presipitat, yaitu lapisan pada endapan dipindahkan dari campuran reaksi dengan cara filtrasi, selanjutnya dibilas dengan etanol p.a 96% lalu dikeringkan dalam suhu kamar.6,7

Senyawa yang mengandung gugus fungsi Schiff base dengan konsentrasi 0,1 mmol (0,038 g) dilarutkan di dalam 10 mL DMF, lalu diaduk perlahan selama 1 jam hingga homogen, kemudian ditambahkan 5 mL ion logam Fe (III) dalam bentuk larutan FeCl3.6H2 O (0,027 g) dengan konsentrasi 0,1 mmol ke dalamnya. Campuran tersebut lalu direfluks selama 3 jam, lalu diuapkan hingga setengah dari volume semula dan disimpan pada suhu kamar selama 1 hari. Kemudian larutan senyawa kompleks itu disaring dan dikeringkan.6,7

Karakterisasi gugus fungsi dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer FTIR, yaitu untuk senyawa hasil sintesis yang mempunyai gugus fungsi Schiff base (reaksi ortohidroksibenzaldehid dan 4,4 diaminodipenileter) dan juga senyawa hasil reaksi dari gugus fungsi Schiff base dengan ion logam Fe(III) (senyawa kompleks).

Pada pembuatan variasi konsentrasi larutan uji, untuk setiap senyawa uji, yaitu senyawa Schiff base, senyawa kompleks, dan senyawa pembanding (kloramfenikol) masing-masing dibuat variasi konsentrasi 1000 ppm, 1200 ppm, 1400 ppm, 1600 ppm, 1800 ppm, dan 2000 ppm. Masing-masing senyawa ditimbang seberat 3 mg; 3,6 mg; 4,2 mg; 4,8 mg; 5,4 mg; dan 6 mg, lalu masing-masing senyawa dilarutkan dalam 3 mL DMF.

Pada pembuatan media uji, ditimbang sebanyak 23 g serbuk Nutrient Agar (siap pakai) dilarutkan di dalam 1 L air suling dan dipanaskan sampai mendidih dan larut seluruhnya. Kemudian disterilkan di dalam autoklaf pada suhu 121 °C dan tekanan 15 lbs selama 15 menit. Media Nutrient Agar (NA) lalu dituangkan sebanyak 15 mL ke dalam cawan petri dan 5 mL ke dalam tabung reaksi untuk agar miring, dibiarkan memadat dan disimpan di dalam lemari pendingin.8 Lalu dilakukan peremajaan terhadap mikroba uji.

Pada pembuatan suspensi mikroba, diambil koloni mikroba dari agar miring NA menggunakan jarum ose, kemudian disuspensikan ke dalam pelarut NaCl fisiologis dalam tabung reaksi dan dikocok homogen. Kekeruhan suspensi mikroba uji diukur dengan alat spektronik, yaitu pada panjang gelombang (λ) 530 nm dengan transmitan 25% .

Pada uji penghambatan mikroba, diteteskan suspensi bakteri sebanyak 1 tetes ke tabung reaksi yang berisi 10 mL media NA lalu dihomogenkan kemudian dituangkan diatas cawan petri yang berisi 10 mL media NA yang telah memadat, lalu cawan diratakan. Cawan petri digoyangkan beberapa kali secara horizontal supaya suspensi bakteri ini merata pada seluruh permukaan agar. Kemudian dibiarkan pada suhu kamar selama 15 menit.8 Setiap bakteri uji ditempatkan pada 1 cawan petri untuk tiap larutan uji, pengujian dilakukan sebanyak tiga kali (triplo). Cakram kertas yang sudah disterilkan, lalu dicelupkan ke dalam masing-masing konsentrasi larutan uji yang disiapkan, kemudian diletakkan pada permukaan media agar yang telah diinokulasi dengan bakteri. Semua cawan petri diinkubasi ke dalam inkubator pada suhu 37 °C selama 24 jam. Lalu diukur diameter zona bening (clean zone) dengan menggunakan jangka sorong.

Gambar 2 Analisis IR untuk Senyawa Schiff base

 

Tabel 1 Data Diameter Hambat Senyawa Schiff base, Senyawa Kompleks dan Kontrol terhadap Bakteri S. aureus

Hasil

Dari reaksi 20 mmol (2,1 mL) ortohidroksi benzaldehid dengan 10 mmol (2 g) 4,4 Diamino difenil eter diperoleh senyawa Schiff base sebanyak 4,17 g. Senyawa Schiff base didapatkan dengan metode refluks. Persamaan reaksi dari pembentukan Schiff base dapat dilihat menurut reaksi pada Gambar 3. Dari reaksi 0,1 mmol (0,038 g) senyawa Schiff base dengan 0,1 mmol FeCl3.6H2O (0,027 g) diperoleh senyawa kompleks sebanyak 0,045 g.

Hasil dari karakterisasi gugus fungsi menggunakan FTIR yang ditunjukkan pada Gambar 2. Karaterisasi gugus Schiff base dengan menggunakan metode FT-IR diketahui bahwa senyawa Schiff base telah terbentuk, ditandai dengan adanya serapan azometin pada bilangan gelombang 1620,21 cm-1 (Gambar 2).

Pengamatan pada hasil uji aktivitas antibakteri dari senyawa Schiff base, kompleks Schiff base dengan logam Fe, dan terhadap baku kloramfenikol terhadap bakteri Stapylococcus aureus ATCC 25923 dilakukan pada konsentrasi 1000, 1200, 1400, 1600, 1800, dan 2000 ppm. Hasil dari pengujian penghambatan mikroba dari senyawa Schiff base, kompleks Fe-Schiff base, dan kloramfenikol sebagai kontrol, ditunjukkan pada Tabel 1.

Pembahasan

Gambar 3 Reaksi antara 4,4-Diaminodifenil Eter dan Ortohidroksi Benzaldehida
Gambar 4 Pembentukan Senyawa Kompleks dari Schiff Base dan Logam Besi

Secara visual, kompleks akan terbentuk ditandai dengan perubahan kristal menjadi berwarna hitam. Pembentukan dari kompleks Schiff base dan logam besi dapat dilihat pada skema tersebut, terlihat bahwa ion logam Fe3+ (sebagai atom pusat) diikat oleh atom N dan O tersebut masing-masing mempunyai elektron bebas (N mempunyai 2 elektron bebas dan O mempunyai 4 elektron bebas) (Gambar 4).

Hasil yang ditunjukkan dari pengujian aktivitas antibakteri adalah baik karena semakin besar konsentrasi senyawa Schiff base, maka semakin besar pula zona diameter hambatnya, hal ini menunjukkan bahwa senyawa tersebut memiliki aktivitas antibakteri yang baik dikarenakan senyawa Schiff base sebagai donor atom (O dan N),9 sehingga gugus hidroksil meningkatkan aktivitas biologi.3

Gugus C=N pada Schiff base dapat bersifat sebagai antibakteri di mana gugus amina (NH2) mempunyai elektron bebas. Adanya gugus amina yang mempunyai muatan kationik yang mampu mengikat sumber makanan bakteri tersebut sehingga menghambat nutrisi (makanan) masuk ke dalam sel.10

Mekanisme antara senyawa kompleks dengan bakteri yaitu melalui teori khelat (Chelation theory), di mana ketika ion logam di kelat dengan ligan maka polaritas ion logam akan berkurang karena adanya tumpang tindih berbagai orbital ligan dan menyumbangkan sebagian muatan positif ion logam dengan gugus donor sehingga lipofilitasnya meningkat dan kompleksnya dapat berpenetrasi atau masuk ke dalam membran bakteri.11

Terjadi peningkatan diameter hambat (zona bening) pada senyawa kompleks dibandingkan zona bening pada senyawa Schiff base. Namun, penghambatan ini masih jauh dibanding dengan nilai pada konsentrasi yang sama untuk pembanding, yaitu kloramfenikol baku.

Simpulan

Dari penelitian yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa senyawa Schiff base dari senyawa 4,4-diaminodifenil eter dan senyawa ortohidroksi benzaldehid mampu menghambat pertumbuhan dari bakteri Staphylococcus aureus. Dengan nilai hambat senyawa kompleks dari Schiff base yang dikomplekskan dengan logam Fe lebih besar dibandingkan nilai hambat dari senyawa Schiff base.

Daftar Pustaka

  1. Jahlan S,  Jindal A,  Gupta A, Synthesis, biological activities and chemistry of thiazole derivate and schiff bases. Asian Journal of Pharmaceutical and Clinical Research. 2012;5(3):199-208.
  1. Kumar S, Dhar DN, Saxena PN. Applications of metal complexes of Schiff bases, a review. J. Sci. Ind. Res. 2009;68:181–187.
  2. Amanullah M, Sadozail SK, Rehman W, Hasan Z, Rauf A, Iqbal M. Cytotoxic, antibacterial activity and physico-chemical properties of some acid catalyzed Schiff bases. African Journal of Biotechnology. 2011;10(2): 209-213
  3. Uddin MN, Chowdhuyl DA, Rony MM, Halim ME. Metal complexes of Schiff bases derived from 2- thiophenecarboxaldehyde and mono/diamine as the antibacterial agents. Modern Chemistry. 2014;2(2): 6-14
  4. Asiri AM, Khan SA. Synthesis and anti-bacterial activities of some novel schiff bases derived from aminophenazone. Molecules 2010;15: 6850-6858.
  5. Kumar S, Nirajan M, Chaluvaraju KC, Jamakhandi CM, Kadadever D. Synthesis and antimicrobial study of some Schiff base of sulfonamides. Journal of Current Pharmaceutical Research. 2010;1:39-42.
  6. Kumar G, Kumar D, Singh CP, Kumar A, Rana VD. Synthesis, physical characterization, and antimicrobial activity of trivalent metal schiff base complexes.   Serb. Chem. Soc. 2010; 75(5):629-637.
  7. Olufemi RK, Obafemi SA, Ayoade AA, Adedapo AA. Comparative assessment of antibacterial activities of Asclepias syriaca (milk weed) leaf extract and antibiotic drugs on methicillin resistant Staphylococcus aureus, Staphylococcus aureus and Streptococcus faecium. International Journal of Physical and Social Sciences. 2014;4(2):1-
  8. Rathore K, Singh RKR, Singh HB. Structural, spectroscopic and biological aspects of O, N-donor schiff base ligand and its Cr(III), Co (II), Ni (II), and Cu (II) complexes synthesized through green chemical E-Journal of Chemistry. 2010;7:566-572.
  9. Darmanto M, Atmaja L, Nadjib M. Studi analisis antibakteri dari film gelatin-kitosan menggunakan Staphylococcus aureus. Prosiding Skripsi Semester Genap 2010/2011; Surabaya, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Institut Teknologi Sepuluh November 2010.
  10. Kirubavathy SJ, Velmurugan R, Parameswari K, Chitra S. Synthesis, characterization, single crystal XRD, in vitro antimicrobial and cytotoxicity study of   tris(ethylenediamine) cobalt (III)     chloride      oxalate     trihydrate. Arabian  Journal  of  Chemistry.  2014.