Studi Permeabilitas In Vitro Sediaan Gel Natrium Diklofenak dan Dietilamin Diklofenak

704

Indo. J. Phar. Scie. Tech. Vol. 1, No. 2, 34-41 (2014). http://dx.doi.org/10.15416/ijpst.v1i2.7514

Yoga Windhu Wardhana1, Sriwidodo B1.,Aliya Nur Hasanah1, Priskila O. Dwiestri1

Show more

1Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran
Korespondensi: yoga.ww@unpad.ac.id

[collapse]

Download citation | PDF (334 kb)

Abstrak/Abstract

Kata kunci: Gel, natrium diklofenak, dietilamin diklofenak, permeabilitas

Pendahuluan

Penggunaan sediaan topikal untuk mengu-rangi rasa nyeri ataupun radang secara lokal di luar tubuh telah banyak dipasarkan dengan berbagai bentuk sediaan. Salah satu produk yang cukup terkenal dan paling banyak dipakai adalah diklofenak gel atau emulgel. Produk ini ternyata dibuat tidak dengan bahan obat/aktif yang sama, industri farmasi membuat dengan 2 bahan aktif berbentuk garam yang berbeda yaitu natrium diklofenak dan dietilamin diklofenak.

Kedua bahan aktif memiliki sifat yang berbeda terutama sifat kelarutan dalam air dan koefisien partisinya. Perbedaan tersebut akan memberikan perbedaan ketersediaan hayati dari sediaan gel yang dibuat. Dilihat dari kelarutannya dalam air, natrium diklofenak memiliki kelarutan sukar larut dalam air, sedangkan dietilamin diklofenak sedikit larut dalam air. Untuk koefisien partisi dari natrium diklofenak sebesar 1,1 sedangkan dietilamin diklofenak 0,853 (Chuasuwan, 2008; Arora 2001; Williams, 2003). Dari informasi tersebut menunjukkan bahwa natrium diklofenak bersifat lebih lipofil dibanding dietilamin diklofenak.

Pembuatan sediaan gel

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka perlu dipelajari sejauh mana perbedaan sifat tersebut dapat memberikan perbedaan ketersediaan hayati. Penelitian ini merupakan penelitian tahap awal yang menunjukkan perbedaan penetrasi obat secara in vitro dengan bekas kelupasan kulit ular phyton sebagai membran uji. Seperti diketahui bersama bahwa absorpsi obat sangat dipengaruhi oleh sifat-sifat anatomi dan sifat fisiologik tempat absorpsi dimana obat tersebut diaplikasikan. Oleh karenanya dipilih bekas kulit ular phyton yang didasarkan pada fungsi dari lapisan tanduk pada kulit sebagai barrier dan buffer dari obat. Dimana lapisan tanduk dari kulit ular memiliki sedikit perbedaan dengan kulit manusia (Pittermann, 2007).

Metode

Bahan

Natrium  diklofenak  (Zhejiang  Kangle Pharma-ceuticalCo., Ltd), Dietilamin diklofenak (Lazmi Laboratories Pct, Ltd), membran kulit ular Python reticulates (Kebon Binatang Bandung), Hidroksipropil selulosa (Nippon Soda), tween 80(Merck), gliserin, propilenglikol, metil paraben, etanol, dan akuades.

Tabel 1 Komposisi basis gel dalam persen

Dalam pembuatannya masing-masing bahan aktif sebelumnya dilarutkan terlebih duludengan sedikit etanol kemudian dicampurkan dengan basis gel yang telah terbentuk.

Pembuatan Kurva Baku

  1. Membuat larutan baku natrium diklofenak / dietilamin diklofenak dalam larutan dapar fosfat pH 7,4.masing-masing pada konsen-trasi 10 ppm.
  2. Membuat larutan baku metil paraben dalam larutan dapar fosfat pH 7,4 pada konsentrasi 3 ppm.
  3. Membuat larutan baku campuran antara metil paraben dan natrium diklofenak / dietilamin diklofenak dengan perbandingan 3 : 10 ppm.
  4. Menentukan panjang gelombang analisa de-ngan derivat pertama dan derivat kedua, yang ditentukan pada l 245, 265, 269 dan 277 nm.
  5. Membuat kurva baku penetapan kadar dari panjang gelombang analisa yang didapat.

Penetapan kadar obat

Sampel sediaan gel sebanyak 1 g dilarutkan dalam 100 mL larutan dapar fosfat pH 7,4. Dari larutan tersebut diambil 1 mL untuk dilarutkan dengan larutan dapar fosfat pH 7,4 dalam labu ukur 10 mL. Kemudian analisa larutan dengan spektro-fotometri UV sesuai panjang gelombang hasil penetapan kurva baku.

Pengamatan organoleptis

Mengamati terjadinya perubahan bentuk, warna dan bau selama penyimpanan 56 hari.

Pengamatan perubahan pH

Mengamati   terjadinya   perubahan   pH selama penyimpanan 56 hari.

Pengamatan viskositas

Mengamati terjadinya perubahan viskositas selama 56 hari, menggunakan viskometer Brookfield LV pada kecepatan 10 rpm.

Uji Permeabilitas in vitro

  1. Persiapan cairan reseptor Pembuatan cairan dapar fosfat pH 7,4 sesuai dengan Farmakope Indonesia Ed. IV
  2. Persiapan membran uji dari kulit ular Sebelum digunakan rendam kulit ular Python reticulates dalam cairan dapar fosfat pH 7,4.
  3. Prosedur Uji Permeabilitas in vitro Pengujian dilakukan dengan sel difusi franz yang telah dilengkapi pengaduk magnetik. Jaga suhu sistem pada 37+0,50C selama 32 jam. Aplikasikan 0,5 g sediaan gel pada membran uji dan ambil sebanyak5 mL di setiap pengambilan sampel (dilakukan pada selang waktu tertentu hingga 32 jam). Gantikan cairan dapar fosfat pH 7,4 setelah pengambilan sampel.

Hasil

Pembuatan Kurva Baku

Hasil pemeriksaan spektrum serapan sinar UV dari campuran metil paraben dan natrium diklofenak/ dietilamin diklofenak diperoleh panjang gelombang yang berdekatan sehingga menimbulkan interferensi yang akan mengganggu analisa kadar bahan obat. Untuk itu dilakukan derivatisasi dengan cara derivat pertama yaitu antara dA/dλ terhadap λ dan derivat kedua dA2/dλ2 terhadap λ untuk mendapatkan panjang gelombang zero crossing metil paraben, dimana metil paraben tidak mempunyai serapan pada panjang gelombang tersebut atau dλ/dA=0 (Nurhidayati, 2007).

Penetapan Kadar Obat

Hasil pengukuran serapan sinar UV dari sampel sediaan gel diperoleh hasil sebagaimana pada tabel 2. berikut.

Tabel 2 Kadar Rata-rata Sediaan Gel Diklofenak

Dengan demikian kadar diklofenak dari sediaan gel yang dibuat memenuhi persyaratan dimana masih dalam rentang kadar yang diperbolehkan yaitu antara 95 – 105 % (British Pharmacopeia, 2001).

Evaluasi kualitas sediaan gel

Pengamatan organoleptis

Pengamatan selama 56 hari menunjukkan bahwa sediaan gel yang dibuat tidak mengalami perubahan bau, warna dan konsistensi bentuk.

Pengamatan perubahan pH

Hasil pengukuran pH selama 56 hari diperoleh kisaran rentang pH 7,43 – 7,68, dimana nilai tersebut masih pada rentang pH yang diper-syaratkan untuk sediaan topikal yaitu 6–8 (British Pharmacopeia, 2001). Pengamatan perubahan viskositas.

Dari pengukuran viskositas menggunakan viskometer Brookfield tipe spindel no. 6 dengan kecepatan 10 rpm selama 56 hari diperoleh kisaran rentang 331–417 poise. Ini menunjukkan bahwa sediaan gel masih memenuhi persyaratan sebagai sediaan gel yang baik dimana konsistensinya tidak mengalami perubahan yang berarti.

Tabel 3 Sifat Fisik Sediaan Gel Diklofenak Selama Waktu Penyimpanan

 

Tabel 4 Perubahan pH Rata-rata Sediaan Gel Diklofenak Selama Waktu Penyimpanan

Tabel 5 Perubahan Viskositas Rata-rata Sediaan Gel Diklofenak Selama Waktu Penyimpanan

Pembahasan

Berdasarkan 4 panjang gelombang yang digunakan dalam pengukuran spektrum serapan sinar UV yaitu 245, 265, 269 dan 277 nm diperoleh hasil perhitungan derivat kedua sebagai panjang gelombang zero crossing yaitu 245 nm yang mempunyai nilai serapan natrium/dietilamin diklofenak lebih besar daripada pada panjang gelombang 265 nm karena pada serapan yang paling besar, serapannya lebih stabil sehingga kesalahan analisis dapat diperkecil (Hayun et al., 2006).

Kemudian panjang gelombang tersebut dipakai dalam pembuatan kurva baku dimana diperoleh hasil persamaan garis untuk setiap bahan obat yang berbeda adalah : Natrium diklofenak :

y = 1,07.10-4x+ 3,3.10-5 r = 0,997

Dietilamin diklofenak y = 1,09.10-4x – 6.10-5 r =0,991

dimana :

y = serapan derivat kedua

x = konsentrasi(ppm)

 

Gambar 1 Spektrum derivat kedua (A) natrium/ (B) dietilamin diklofenak, metil paraben dan campuran keduanya

 

Gambar 2 Profil permeasi dari sediaan gel natrium diklofenak dan dietilamin diklofenak

 

Uji Permeabilitas in vitro

Jumlah obat yang dapat berpenetrasi melalui membran kelupasan kulit ular Phyton reticulates pada sel difusi franz diamati selama 32 jam. Diperoleh hasil bahwa natrium diklofenak memiliki laju permeasi yang lebih cepat dan memberikan jumlah yang lebih banyak dibandingkan dietil-amin diklofenak. Hasil pengamatan setelah 32 jam diperoleh 20% natrium diklofenak dan 15,5% dietilamin diklofenak.

Perbedaan ini dimungkinkan antara lain aki-bat perbedaan lipofilisitas, berat molekul dan derajat ionisasi dari kedua bahan aktif. Dimana dari penelusuran pustaka diperoleh hasil natrium diklofenak memilikilog P sebesar 1,1, berat mo-lekul 318,13 g/mol dan dihitung dari nilai pKa persentase ionisasinya berkisar + 0,3%. Sedang-kan dietilamin diklofenak memiliki log P sebesar 0,853, berat molekul 369,29 g/mol dan persentase ionisasi berkisar + 0,2% (Williams, 2003).

Hal ini menunjukkan bahwa natrium diklofenak memiliki lipofilisitas yang lebih baik, ukuran molekul yang lebih kecil dan persentase ionisasi yang lebih besar dibandingkan dietilamin diklofenak, sehingga daya penetrasi natrium diklofenak lebih baik. Tetapi bila melihat efisiensi pemakaian obat topikal, pemakaian dietilamin diklofenak memiliki efisiensi lebih tinggi karena profil pelepasan dari dietilamin diklofenak memperlihatkan efek depo yang lebih bertahan setelah aplikasi.

 

Simpulan

Evaluasi kualitas sediaan gel dari kedua formula menunjukkan hasil yang baik, keduanya memenuhi persyaratan sebagai sediaan gel yang baik. Hasil uji permeabilitas in vitro memperlihatkan bahwa natrium diklofenak merupakan bahan obat yang memiliki daya permeabilitas yang lebih baik. Tetapi dari segi pemakaian, dietilamin diklofenak dengan profil permeasi depo diharapkan dapat memberikan efisiensi yang lebih baik.

 

Daftar Pustaka

  1. Arora, P and Mukherjee, B. 2002. Design, development, physicochemical, and in vitro and in vivo evaluation of transdermal patches containing diclofenac diethyl-ammonium salt. Journal of Pharmaceutical Science: 2076-2081.
  2. Banker, G.S. 1989. Modern New York: Marcel Dekker, Inc. 355, 356.
  3. Benson, A.E  and  Watkinson, A.C. 2011. Topical and Transdermal Drug Delivery. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc.
  4. Brain, K.R., K.A. Walters and A.C. Watkinson. 2002. Methods for Studying Percutaneous Absorption. In: K.A. Walters (editor). Dermatological and Transdermal Formulations. New York: Marcel Dekker, Inc. 367, 368.
  5. British Pharmacopoeia Commission. 2001. British Pharmacopoeia. London, UK: The Stationery Office.
  6. Cannon, J.G. 2007. Pharmacology for Chemist. New York : Oxford University Press. 11.
  7. Chien, Y.W. 1987. Transdermal Controlled Systemic Medication. New York : Marcel Dekker Inc.
  8. Chopda, G. 2006. Transdermal Drug Delivery Systems: A Review. Available at : http://scf-online.com [Diakses tanggal 6 Januari 2012].
  9. Chuasuwan, B., Bunjensoh, V., Polli, J.E., Zhang, H., Amidon, G.L., Junginger, H.E., Midha, K.K., Shah, V.P., Stanvchansky, S., Dressman, J.B. and Barends, D.M. 2008. Biowaiver monograph for immediate release solid oral dosage forms : Diclofenac sodium and diclofenac potassium. Willey InterScience : 1206-1208
  10. Connors, K.A. 1982. Textbook of Pharmaceutical Analysis, 3th ed. NewYork : John Wiley & Sons, Inc.
  11. Dayan, N. 2005. Delivery System Design in Topically Applied Formulations: An In: M.R Rosen (editor). Delivery System Handbook for Personal Care and Cosmetic Products, Technology, Applications, and Formulations. New York: Willian Andrew Publishing.
  12. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia. Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
  13. Desai, A dan M. Lee. 2007. Gibaldi’s Drug Delivery System In Pharmaceutical Care. United Stated : American Society of Health-System Pharmacist, Inc. 48, 49.
  14. Gad, S.C. 2008. Pharmaceutical Manufacturing Handbook: Production and Processes. New Jersey: John Wiley & Sons, Inc. 298.
  15. Gandjar, I.G dan A. Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 224, 228
  16. Hayun, Harianto dan Yenti. 2006. Penetapan Kadar Triprolidina Hidroklorida dan Pseudoefedrina Hidroklorida salam Tablet Anti Influenza secara  Spektrofotometri
    Derivatif. Majalah Ilmu Kefarmasian. 98, 99
  17. Joradol, R. 2005. The Effect of Adhesives on Properties of Ketoprofen Patch. Bangkok : Mahidol University
  18. Munson J.W. 1991. Analisis Farmasi Metode Modern, Parwa B. Terj. Dari Pharmaceutical Analysis part B, Modern Methods, oleh Harjana. Surabaya: Airlangga University
  19. Nurhidayati,              2007. Spektrofotometri Derivatif dan Aplikasianya dalam Bidang Farmasi. Jurnal Ilmu Kefarmasian Indonesia. 94
  20. Pittermann, W. 2007. Percutaneous Absorption: Proof of Evidence and Models. Available                          at: http://www.scf-online.com/ [Diakses          tanggal 30        Desember 2011]
  21. Roberts, M.S., Elizabeth and M.A. Pellett. 2002. Skin Transport. In:Walters, K.A. (editor). Dermatological and Transdermal Formulation. New York: Marcel Dekker, Inc. 97, 98,
  22. Roberts, M.S., et al. 2005. Drugs and The Pharmaceutical Sciences, A Series of Textbook and Monograph – Dermatological and Transdermal. New York: Marcel Dekker,
  23. Williams, A.C. 2003. Transdermal and Topical Drug Delivery. London : Pharmaceutical Press. 35, 36, 37, 38.